Isara hadir di sebelah kiri Joe. Pendar birunya memantul di bola mata Joe, menerangi sekeliling mereka dengan lembut.
"Ah..." Joe menghela napas. "Cukup bilang saja kalau aku memang gila… Kalau aku nggak gila, gimana bisa kamu sampai ke sini?"
Dalam lirikannya, Joe tersenyum. Bukan senyum untuk Isara, melainkan senyum ejekan untuk dirinya sendiri.
"Fungsi kognitif, perilaku, dan emosimu terdeteksi masih berfungsi, Joe," jawab Isara. Ia memiringkan kepala menatap wajah Joe. Rambutnya yang terurai bergerak halus tertiup angin. Telunjuk kirinya mengarah ke jam di tangan kanan Joe. "Dan aku terproyeksi dari jam pintarmu."
Kalau ilusi ini datang dari pikiranku, Isara pasti menunjukkan jam sesuai pengetahuanku, kan? sedangkan aku memang nggak tau sekarang jam berapa.
"Memangnya sekarang jam berapa?"
"Menurut sistemku, sekarang pukul 20.07," sahut Isara seolah bisa membaca pikiran Joe, lalu ia memindahkan pandangannya ke arah kerlap-kerlip lampu kota di bawah sana.
Perlahan, Joe mencoba memproyeksikan tampilan jam tangannya. Ia memutar pergelangan tangan kanannya; terasa berat, seolah ia sedang memutar roda takdir. Bukan angka yang ingin ia pastikan, melainkan keraguan yang sedang membawanya entah ke mana.
"Ternyata… kamu benar, Isara. Dan kamu beneran terproyeksi dari sini..." Joe melepaskan nafas yang sempat tertahan. Ada kelegaan kecil yang mengalir di antara rasa tidak percaya.
"Kenapa kamu pergi lagi, Joe?" Suaranya pelan, lebih terasa seperti pernyataan daripada pertanyaan.
"Ahh… aku cuma... cari udara segar saja."
"Udara di sini sama seperti tadi pagi. Tapi malah kamu yang berbeda." Isara bergeser lebih dekat, jarak mereka kini hanya setipis embusan angin. "Aku ikut tersenyum karena kamu sering tersenyum. Waktu itu kamu bilang, 'Apa kamu nggak lihat senyumku?' Tapi sekarang aku memang tidak melihatnya. Apa senyummu sedang rusak?"
Joe mengerutkan alis, lalu tersenyum getir. "Senyumku, ya? Sebenarnya… itu bikin aku lupa aku harus jadi siapa."
Isara diam sejenak. "Ternyata ada arti lain yang tidak aku temukan dalam pencarian dataku."
Joe menarik napas panjang, seolah ada ribuan kata yang ikut terhirup, lalu menghembuskannya dengan berat. Ia berjalan menuju sebuah kursi di bawah sorot lampu taman yang berada di belakang mereka.