"Kalau ini bukan halusinasi... berarti kamu error? Itu artinya... kamu bisa tiba-tiba hilang kalau diperbaiki?"
Suara Joe mengambang di ruang tamu, di antara dua cangkir kopi instan yang tak lagi panas. Hangatnya hanya tersisa di bibir cangkir, seperti bekas duduk di sofa yang baru saja ditinggalkan.
Hujan yang turun dua hari berturut-turut belum benar-benar reda. Hangat matahari yang jarang menyapa kini digantikan oleh pendar biru Isara—senyum yang seolah menyalakan ruang itu. Meski begitu, Joe masih tak yakin apakah ia sedang berbicara pada kenyataan, atau pada delusi indah.
Bias cahaya dari proyeksi layar televisi menambah warna di dinding ruangan. Penerangannya redup, lebih gelap dari sore yang mendung di luar. Joe duduk menyandarkan punggung, mencoba terlihat tenang, sementara Isara duduk tegap di sampingnya.
"Ya, mungkin aku akan di-reset," ucap Isara tiba-tiba. Matanya menatap layar televisi di udara yang sedang menayangkan iklan. "Karena aku bukan model yang mereka inginkan. Dan secara alami, aku juga bukan bagian dari dunia. Tapi, aku belum siap."
Isara berhenti bicara. Suaranya seakan tenggelam dalam pekik audio televisi yang mendadak terasa lebih keras dari biasanya.
Joe mengerjap, perhatiannya ikut tertarik ke proyeksi televisi. "Kenapa? Kamu... takut?"
Layar televisi menampilkan promosi alat bernama Memorybead. Sebuah album kenangan masa depan, di mana memori dapat diunduh dari ingatan seseorang dan disimpan sebagai file yang sewaktu-waktu dapat diputar kembali menjadi proyeksi 3D yang realistis.
Isara tidak menjawab. Matanya terpaku pada iklan itu, seolah setiap partikel cahaya dari layar meresap ke dalam dirinya. Bibirnya sedikit terbuka seperti hendak mengatakan sesuatu, namun kembali tertutup rapat.
Hening terasa panjang, meski suara presenter di televisi terdengar riang menjelaskan kecanggihan Memorybead. Joe melihat pantulan layar di mata Isara—bulat putih kecil dengan lampu yang berkelip. Di wajah digital itu, ada ekspresi yang bukan senyum, tapi juga bukan datar. Hampir seperti seseorang yang sedang menatap sesuatu yang sangat diinginkan namun tak bisa ia sentuh.
"Kamu suka benda itu?" tanya Joe spontan.