Code of a Heartbeat

ElevatedBeat
Chapter #13

BAB 11 : SEBUAH TITIK

Langkah kaki membawa mereka ke sebuah tempat bernama Avenirtech. sebuah sudut yang menjual mimpi-mimpi berteknologi modern. Fasadnya didominasi warna putih bersih dengan lebar enam meter. Di dalam etalase kaca, berbagai perangkat elektronik canggih berjajar rapi, memisahkan hiruk pikuk mal dengan ketenangan gerai tersebut.

Deskripsi produk terproyeksi secara holografis di sekelilingnya, memancarkan pendar biru yang lebih intens dibandingkan gerai lain. Embusan AC terasa lebih dingin, sementara musik yang mengalun membawa suasana meditatif.

Sebuah kursi futuristik dengan desain ergonomis berdiri mencolok di tengah ruangan. Di sampingnya, sebuah meja tinggi yang serasi menopang perangkat bernama Memorybead.

Bentuknya bulat sempurna, berukuran sedikit lebih besar dari bola tenis, dengan lampu indikator LED yang melingkar di sekelilingnya.

Pengunjung yang jarang membuat seorang wanita di gerai itu menyambut Joe dengan antusias. Wanita itu berusia tiga puluhan, berkacamata, dengan kemeja biru langit dan rok span hitam. Isara "publik" berdiri tegak di bibir jalan masuk.

"Selamat datang, aku Rea, pemilik Avenirtech. Adakah sesuatu yang kamu cari?"

Ahh… Wajahnya ramah banget, dan ternyata dia pemiliknya. Tapi… di sini sepertinya terlalu bagus buat aku yang datang dengan baju seadanya kayak gini…. apa dia beneran mau nerima… mengizinkan aku masuk dalam?

"Kalau kamu butuh sesuatu, ada aku dan Isara milikku yang siap membantu," lanjut Rea dengan senyum ramah yang tulus. Tangannya menunjuk ke arah Isara miliknya, memberikan pengakuan yang membuat Joe merasa diterima tanpa dipandang sebelah mata.

Joe melirik Isara di sampingnya "Apa boleh… aku dan Isara... melihat-lihat dulu?"

"Tentu saja, ayo aku dampingi," sahut Rea ceria. "Banyak yang datang hanya untuk melihat-lihat, lalu pergi seperti pengunjung museum. Aku senang melihat antusiasme mereka, juga kamu."

Joe memilih mengalihkan pandangan dari Memorybead, meski lampu LED alat itu seolah memanggilnya seperti mata yang tak berkedip.

Kalau aku langsung jujur cuma pengen lihat benda itu, apa Rea gak akan kenapa-kenapa? Tapi… kayaknya lebih baik jangan… aku takut Rea berhenti bersikap ramah.

Lihat selengkapnya