"CUKUP!!!"
Suara Joe pecah. Teriakan itu meledak bersama seluruh guncangan yang ia simpan selama puluhan tahun. Itu bukan sekadar teriakan untuk mengusir suara-suara di luar kepalanya, melainkan untuk semua bayangan masa lalu yang terus merantai kakinya.
Seketika, hening dan gelap menyapu segalanya—seolah dunia di sekelilingnya hancur terhempas suaranya sendiri. Tubuh Joe gemetar, napasnya tersengal, matanya terbuka mencari-arah. Namun, pandangannya kembali tak sanggup menembus hitam pekat yang dingin.
Keheningan itu bertahan lama. Di telinganya, bisikan-bisikan itu seolah masih enggan pergi sepenuhnya. Ia mencoba mengatur napas, memaksa dadanya naik dan turun dalam ritme yang seharusnya, hingga dentum jantung yang memukul rongga dadanya perlahan melemah.
Di tengah kegelapan tanpa arah itu, sosok Joe kecil kembali tercipta. Ia berjalan terseok-seok; wajahnya pucat, merintih menahan sakit. Cahaya di sekitar perlahan menyingkap sebuah tempat baru-lapangan terbuka di bawah sengatan matahari yang terik.
Aroma aspal meleleh tercium tajam. Tanah kering tertiup angin, menjadi debu yang menyusup ke sela mata. Joe dewasa melangkah maju, tangannya bergetar mencoba meraih bayangan dirinya yang mungil.
Ia tahu momen ini. Ini adalah saat ia sengaja membakar kulitnya di bawah terik matahari demi sebuah perubahan identitas. Perasaan perih mulai merambat di kulit Joe dewasa; lengannya memerah, wajahnya menghitam—ia melebur menjadi satu dengan kenangan itu.