Dari balik pekat itu, muncul kembali sosok yang berjalan terseok… Joe kecil. Wajahnya pucat, matanya sembab, kulitnya perih terbakar matahari. Tangannya terulur ke depan, bergetar hebat.
"...Ayah... tolong..."
Suara itu lirih, pecah, nyaris tak terdengar dari tubuh Joe kecil. Di hadapannya muncul—berdiri sosok sang ayah. Tubuhnya kokoh, wajahnya hangat—tapi bukan untuk Joe. Sang ayah sedang tertawa lepas pada seorang anak perempuan kecil yang digendongnya—Anak lain dari pernikahan keduanya. Senyumannya begitu tulus dan penuh kebahagiaan.
Joe kecil menatap dengan mata berkaca-kaca, menunggu tangannya digenggam. Sang ayah hanya sempat melirik sekilas tanpa senyum, sebelum membuang muka dan melangkah pergi ke dalam kekosongan, meninggalkan Joe sendirian. Tawa bahagia anak perempuan itu bergema, lalu menghilang ditelan gelap.
Joe dewasa jatuh berlutut. Tubuhnya bergetar hebat. Kata-kata meluncur dari mulutnya dengan penuh amarah yang parau.
"Bahkan setelah selama ini... aku malah melihatmu di sini!" Joe berteriak, suaranya mengejek. "Dulu... aku sempat percaya kamu bakal datang menolongku! Aku menunggu itu sejak usiaku empat tahun! Tapi aku malah mendengar kamu mati empat tahun lalu!"