Code of a Heartbeat

ElevatedBeat
Chapter #17

BAB 15 : CAHAYA PROYEKSI

Cahaya menyilaukan itu meredup, membawa Joe kembali ke kursi di Avenirtech. Ia terbangun dengan tergesa. Tubuhnya terhuyung, memburu udara dalam-dalam. Napasnya terengah-engah dan wajahnya pucat pasi seperti baru saja ditarik paksa dari dasar lautan.

Dalam pandangannya yang masih samar, ia melirik layar proyeksi Memorybead. Di sana, Rea dan Isara berdiri terpaku. Mereka menatap sisa gambar di udara dengan raut wajah yang belum pernah Joe lihat sebelumnya—sebuah kengerian sekaligus rasa iba yang mendalam.

"Me... Memorybead seharusnya ti...dak memproses kenangan seperti ini," nada suara Rea terbata-bata. Tangannya dengan cepat meraih perangkat di meja, sibuk menghentikan proses yang tampak malfungsi tersebut.

Dada yang sesak dan telinga yang berdengung memaksa Joe melepas sensor di kedua sisi dahinya. Ia berjalan terhuyung keluar dari toko. Dalam langkahnya yang goyah, Joe sempat melirik ke belakang; terlihat Isara sedang membungkukkan badan ke arah Rea—entah untuk meminta maaf atas kekacauan itu atau mengucapkan terima kasih.

Lantai mal terasa miring ke arah yang tak tentu, berusaha membuat Joe jatuh tersungkur. Ia menjadikan tembok sebagai penopang setelah tanpa sengaja menyenggol beberapa barang pajangan hingga pecah. Suara nyaring benda jatuh membelah suasana mal yang tenang.

Beberapa pengunjung menoleh penasaran. Ada yang mendekat ingin menolong, ada yang hanya menonton dari kejauhan dengan kamera ponsel yang menyala. Berbagai sorot mata tertuju padanya; mata penuh tanya, mata penuh iba, dan mata yang menganggapnya aneh.

Joe memacu langkah tak beraturannya menuju eskalator, terus hingga sampai ke area parkir rooftop. Ia membungkuk, menumpukan tangan di kedua lututnya untuk menahan berat badan.

Di bawah naungan pintu eskalator, ia menyandarkan punggung ke tembok dan mulai mengatur napas. Cipratan air hujan terasa dingin menembus sepatunya yang tipis, seolah mengingatkan bahwa ia kini telah kembali ke dunia nyata.

Di atas sana, langit yang hampir gelap mulai menggiring lampu-lampu kota untuk menunjukkan sinarnya. Desis hujan dan melodi dari pepohonan yang menari ditiup angin seolah menjadi obat bagi telinga Joe yang masih berdengung.

Bayangan tadi itu, rasanya nyata banget… Rasa dibiarkan sendirinya pun kayak… entahlah… aku gak bisa jelasin.

Tapi…

Lihat selengkapnya