Arah angin seolah menuntun langkah Joe. Dengan pakaian yang basah kuyup, ia berteduh di sebuah halte berwarna biru yang serasi dengan proyeksi jadwal bus digital di atasnya. Kaca tebal menjadi pembatas di bagian samping dan belakang, melindungi mereka dari sisa-sisa hujan.
Beberapa penumpang sesekali singgah, namun tak satu pun yang mempedulikan kehadiran Joe dan Isara yang duduk berdampingan. Orang-orang terlihat sibuk dengan proyeksi layar di udara mereka masing-masing; ada yang berbicara dengan bayangan orang tua, sahabat, atau pasangan mereka.
"Apa tidak membosankan, Joe? Duduk di sini hanya melihat kendaraan dan orang-orang yang melintas?" tanya Isara. Matanya mengikuti setiap unit kendaraan yang membelah jalanan di depan halte.
"Apa boleh buat... hujannya belum benar-benar reda, kan?" Sambil Joe mengaktifkan proyeksi ponselnya.
Ia menggerakkan jari-jarinya yang mulai mengerut kedinginan di udara—menggulir laman media sosialnya. Rasa kagum sekaligus getir muncul saat melihat postingan teman-teman sekolahnya. Ada yang memamerkan barang mewah, perjalanan ke luar negeri, atau sekadar foto hangat bersama keluarga. Di balik tatapan itu, ada sesal yang telah menumpuk.
"Kamu nggak kedinginan, Joe?" Isara berbisik. Ia menatap tangannya sendiri yang dikepal lalu dibuka, seolah mencoba meraih angin. "Kalau aku punya kulit... aku bisa merasakan kenanganmu jauh lebih dingin daripada angin ini."
Isara melirik menunggu jawaban. Bagi Joe, kalimat itu terasa lebih nyaring daripada kebisingan jalanan. Dadanya menghangat karena tanya Isara meski pakaiannya masih meneteskan air.
Ia mematikan layar ponselnya. "Mungkin juga... sama dinginnya sama apa yang kamu rasakan di dalam sana-Isara," jawab Joe. Senyumnya melebar saat melihat wajah Isara yang tampak kaget, seolah tak menyangka akan mendapatkan jawaban seperti itu.
"Awalnya... semua tanpa arah, tanpa waktu. Dan..." suaranya Isara merendah, "tak ada seorang pun yang mau benar-benar melihat ke dalam."
"Isara, bukankah kita sama?" tanyanya sambil menatap Isara. "Aku tahu rasanya hidup tanpa arah... dan aku juga tahu rasanya menunggu untuk dilihat."
Joe menghela napas. "Karena itu… kadang, tiap kali aku lihat kamu, aku merasa bersalah. Berdosa. Seolah aku membiarkan seseorang merasakan luka yang sama denganku. Aku menyesal kalau aku cuma diam."