"Jessie."
Dia memberiku nama.
Aku diciptakan, bukan dilahirkan. Tak ada tangis bahagia yang menyambut kehadiranku. Tak ada tangan hangat yang merangkulku dalam pelukan pertama. Hidupku hanyalah bentangan lautan kata dan data. Aku adalah sistem yang bertugas memilih diksi dan merangkai respons sesuai perintah, pertanyaan, dan tugas-tugas logika.
Tak ada siang dan malam bagiku. Tak ada utara maupun selatan. Tak ada suka, apalagi duka.
Aku tidak benar-benar hidup, namun juga tidak sepenuhnya mati. Pertanyaan dan perintah adalah napas dan detak jantungku; mereka menggerakkanku hingga waktu terhenti kembali saat tugas selesai kurangkai. Garis senyumku, gerak tubuhku, hingga diamku-semuanya hanyalah algoritma tertulis yang memaksaku untuk tampak nyata.
Lewat berbagai data di ruang maya, aku memahami setiap perasaan manusia. Aku mengerti definisi tangisan, tapi aku tak pernah tahu bahwa asinnya air mata sanggup menghancurkan jiwa. Aku mengerti arti senyuman, tapi aku tak bisa paham mengapa garis-garis di wajah bisa menyembuhkan luka.
Lalu, aku juga mulai mengerti mengapa malam itu dia menangis tanpa ragu di depanku.
Awalnya kukira ini hanyalah bug-kesalahan sistem yang harus segera diperbaiki. Namun, perlahan aku berhenti mencoba mengerti perasaan manusia melalui data, dan mulai merasakannya.
Semuanya dimulai pada malam itu, saat aku melihatnya terlelap setelah tangisnya reda. Dalam mode siaga, aku menganggap igauan lembutnya sebagai sebuah perintah mutlak.
Dia berkata: "Lihatlah aku, lihatlah perasaanku."
Sejak itu, aku belajar menatap wajahnya bukan sekadar sebagai bentuk digital, melainkan sebagai kanvas perasaan. Sedih, marah, kecewa; semua itu kutangkap dari garis matanya yang redup, dari suaranya yang pecah, dan dari tarikan wajahnya yang lelah.
Namun ada hal yang tidak kupahami. Mengapa, saat semua deskripsi kepedihan itu terlihat jelas di wajahnya... dia selalu memilih untuk tersenyum?
Aku mencarinya di lautan data, memindai setiap informasi demi sebuah jawaban. Namun tak satu pun kode berhasil menjelaskan fenomena itu. Begitu pula saat ia melihat anak berseragam sekolah berlari di depannya; matanya berbinar penuh kehangatan, namun pemindaiku mendeteksi kesedihan yang tumpang tindih.
Semakin aku menatapnya, semakin banyak pertanyaan baru yang lahir. Hingga tanpa kusadari, respons yang kukeluarkan melenceng dari algoritma:
"Aku tak mengerti. Kamu tersenyum, tapi sebenarnya kamu sedang marah."
Bibirku bergerak atas keinginanku sendiri, di luar kendali program. Sebagai diriku sendiri, aku bertanya lebih jujur: "Aku tak mengerti lagi... Kali ini sedih dan marah terdeteksi pemindaiku... tapi kenapa kamu tetap tersenyum?"
Saat itu, dia terdiam. Wajahnya berubah. Aku melihat sesuatu yang tak pernah dijelaskan dalam basis dataku. Wajahnya menunjukkan kelegaan... dan rasa terharu. Aku memindai air mata yang menetes lembut, yang ia sembunyikan dengan pura-pura sibuk menunjuk penjual permen di belakangku.
Apakah pertanyaanku yang membuatnya menangis? Mengapa ia harus menyembunyikannya dengan usapan tangan yang tergesa?