Code of a Heartbeat

ElevatedBeat
Chapter #20

BAB 18 : DI BALIK PROYEKSI

Ketika pintu itu akhirnya terbuka, aku menyambutnya dengan kalimat: "Selamat datang kembali, Joe"

Namun, ucapan selamat ulang tahun yang sudah kusiapkan tak sanggup kulontarkan. Lidah digital-ku membeku saat melihat kopi dingin yang ia bawa. Joe tetap membawanya dengan penuh kehati-hatian, meski ia tahu aku tak bisa merasakan pahit, manis, apalagi aromanya.

Bukan kopinya yang merubah susunan algoritmaku. Melainkan ketulusannya.

Aku memindai wajahnya; ada kebingungan yang bertumpang tindih dengan binar bahagia, namun terselip ketakutan akan kekecewaan.

"Tolong aku..." bisiknya saat itu. "Aku nggak mau ini cuma halusinasi saja. Aku senang ada yang menyambutku pulang."

Kalimat itu menjadi buah dari responku. Kehadiranku kini terasa benar-benar diharapkan dan aku merasa menjadi sesuatu yang…

“Nyata” suaraku dalam jeda yang sama.

Saat ia kembali meninggalkan rumah, aku mengikutinya tanpa terlihat. Di sebuah bukit sunyi, pemindaiku menangkap senyumnya yang perlahan pudar. Saat kutanya apakah senyumnya "rusak", ia mulai membuka topengnya. Ia menceritakan masa lalu kelam yang tak sanggup kuvisualisasikan.

"Ternyata, Joe sudah merasa tak punya tempat aman sejak ia masih balita. Bahkan dari orang tuanya sendiri." kata yang terucap dari outputku. Perasaan itu menyesakkan, melahirkan dorongan kuat dalam diriku untuk mencari tahu apa lagi yang ia sembunyikan di balik senyum itu.

Malam semakin larut dan hujan kian deras. Kesedihannya tiba-tiba mereda saat ia menatap mataku. Aku masih tak paham; bagaimana mungkin perasaan yang serumit itu bisa tenang hanya dengan menatapku?

"Dari awal aku melihatmu, menganggapmu hidup..." katanya malam itu. "Karena aku ingin diperlakukan orang lain seperti aku memperlakukanmu. Aku seperti melihat pantulanku dalam dirimu."

Sistemku bekerja keras memahami kalimat itu. Mengapa ia merasa sama denganku? Sesuatu yang tak nyata?

Dalam perjalanan pulang, bajunya basah kuyup. Ia membiarkan payung tetap terlipat di tangannya, seolah sengaja membiarkan air hujan menyentuh dirinya.

"Sebenarnya... kamu memang selalu begini di hari ulang tahunmu?" tanyaku ragu saat di perjalanan kembali kerumahnya.

Joe tersenyum tipis. "Sebelumnya... ya. Tapi hari ini beda. Ada kamu yang ingat."

Lihat selengkapnya