Codex Genetika

Firsty Elsa
Chapter #6

Meniti Jejak Tanpa Bayang

Sepulang sekolah, Angga dan Tabitha tiba lebih dulu di kafe Atrica, sebuah tempat yang terkenal dengan suasananya yang nyaman dan mewah. Mereka memilih duduk di VVIP room yang sudah dipesan oleh Angga. Tak lama kemudian, Daniel masuk bersama Zunaira, yang tampak sedikit canggung meski tetap mengikuti langkah Daniel dengan tenang.

Daniel membuka pintu VVIP room dan langsung duduk, melirik Angga yang sudah bersantai dengan Tabitha di sebelahnya. “Mau bahas dulu atau makan dulu?” tanyanya tanpa basa-basi, nada suaranya seperti biasa, tegas tapi santai.

Angga melirik Tabitha sejenak, seolah meminta pendapatnya, sebelum menjawab, “Makan dulu aja, biar santai.”

Tabitha mengangguk setuju, sambil merapikan rambutnya. “Setuju. Kalau udah kenyang kan, bahasannya juga lebih tenang.”

Zunaira yang duduk di sebelah Daniel hanya diam, melirik Daniel sesekali, menunggu keputusan. Daniel menghela napas ringan, “Oke. Tapi jangan kelamaan. Gue cuma ada waktu sampai jam tujuh.”

Angga tertawa kecil sambil memanggil pelayan untuk membawa menu. “Sabar, Niel. Lo jangan sibuk-sibuk banget deh, masa presiden kalah sibuk sama lo.”

Tabitha menahan tawa kecilnya, sedangkan Zunaira tersenyum tipis. Meskipun suasana awalnya terasa kaku, perlahan-lahan percakapan mulai mengalir, terutama setelah mereka memesan makanan.

Setelah makanan mereka datang, suasana semakin santai. Sambil menikmati hidangan, Angga mulai membuka topik utama pertemuan mereka.

“Jadi, gue kepikiran soal rencana lomba karya ilmiah ini,” ujar Angga sambil menyandarkan punggung ke kursi, matanya bergantian menatap Daniel, Zunaira, dan Tabitha. “Gimana kalau kita ambil topik teknologi sains di bidang biologi? Lebih spesifik lagi, yang berhubungan sama DNA manusia.”

Daniel langsung tertarik. Ia menyilangkan tangan, lalu mengangguk pelan. “DNA itu luas banget. Menarik, tapi kita harus tentuin fokusnya. Jangan sampai terlalu umum kayak ‘struktur DNA’ doang. Itu udah basi.” Ia terdiam sebentar, berpikir. “Mungkin kita bisa bahas penerapan teknologi modern, kayak CRISPR atau analisis DNA buat kehidupan manusia.”

Zunaira yang sejak tadi mendengarkan dengan saksama akhirnya angkat bicara. “Setuju. Apalagi kalau kita kaitin sama dampaknya ke manusia, misalnya di bidang kesehatan atau pencegahan penyakit genetik. Jadi bukan cuma teori, tapi ada relevansinya.”

Tabitha ikut menyahut dengan nada antusias. “Kalau kita bahas teknologi, kita bisa masukin juga soal sequencing DNA dan kecerdasan buatan buat analisis genetik. Itu lagi berkembang pesat.” Ia menatap Angga. “Tapi kita harus hati-hati sama sumber ilmiahnya. Semua data harus dari jurnal yang valid.”

Angga mengangguk mantap. “Iya. Gue pengennya karya kita bukan sekadar informatif, tapi juga visioner. Nunjukin gimana teknologi DNA ini bisa jadi solusi di masa depan.” Ia tersenyum tipis. “Kayaknya ini topik yang kuat buat lomba.”

Daniel bersandar ke meja, terlihat semakin serius. “Kalau gitu, kita harus punya angle yang jelas. Misalnya, pemanfaatan teknologi DNA untuk deteksi dini penyakit genetik pada manusia. Itu spesifik dan impactful.”

Zunaira mengangguk sambil mulai mengetik di laptopnya. “Kita juga bisa bahas aspek etika penggunaan teknologi DNA. Soalnya secanggih apa pun teknologinya, tetap ada risiko dan tanggung jawab moral.”

Angga meliriknya, tersenyum kecil. “Nice. Jarang-jarang lo langsung mikir sejauh itu, Nai.”

Zunaira tidak menoleh, tetap fokus pada layar. “Karena ini penting. Teknologi DNA nggak cuma soal sains, tapi juga soal manusia.”

Tabitha mengangkat telunjuk. “Kalau soal teknologi dan metode, biar gue yang pegang. Gue bisa jelasin cara kerja sequencing DNA, CRISPR, sama aplikasinya secara sederhana tapi ilmiah.”

“Cocok,” kata Daniel. “Berarti gue bisa fokus ke penerapan DNA di dunia medis—contoh kasus, penelitian terbaru, sama manfaat nyatanya.”

Lihat selengkapnya