Pagi itu, langit masih berwarna pucat ketika Arkan Virel mengayuh sepedanya perlahan menyusuri jalan menuju sekolah. Angin tipis menyentuh wajahnya, tidak cukup dingin untuk membuatnya menggigil, tapi cukup untuk membuat pikirannya terasa kosong. Sepeda yang ia gunakan bukanlah sepeda baru. Catnya sudah memudar, rantainya kadang berbunyi pelan setiap kali dikayuh, dan sadelnya sedikit miring. Itu adalah sepeda pemberian neneknya—satu-satunya yang ia miliki, satu-satunya yang selalu menemaninya pergi dan pulang dari sekolah.
Di sepanjang jalan, Arkan melewati banyak pemandangan yang seharusnya terasa biasa, namun entah kenapa selalu terasa menusuk. Ia melihat seorang anak seusianya diantar oleh kedua orang tuanya dengan motor, sang ibu merapikan rambut anaknya sebelum berangkat, sementara ayahnya tersenyum bangga. Di sisi lain jalan, seorang gadis melambaikan tangan dengan ceria kepada ibunya sebelum menaiki mobil, tertawa ringan seperti dunia ini tidak pernah memberinya alasan untuk bersedih.
Arkan hanya melirik sekilas, lalu kembali menatap lurus ke depan. Kakinya tetap mengayuh, tapi matanya perlahan naik menatap langit yang mulai berubah warna. Ia menarik napas panjang, dalam, seolah mencoba mengisi sesuatu yang kosong di dalam dirinya. Namun, seperti biasanya, tidak ada yang berubah.
Ayah dan ibunya sudah bercerai sejak ia berumur sepuluh tahun. Sejak saat itu, hidupnya tidak pernah benar-benar terasa utuh. Ia tinggal bersama neneknya—sosok yang selalu berusaha memberikan yang terbaik, meski dengan segala keterbatasan. Neneknya sering tersenyum, sering berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tapi Arkan tahu, tidak semua hal bisa diperbaiki hanya dengan harapan.
Seharusnya pergi ke sekolah menjadi hal yang menyenangkan. Tempat belajar, tempat bertemu teman, tempat tumbuh. Namun bagi Arkan, sekolah adalah tempat yang paling ia takuti sekaligus tak bisa ia hindari. Setiap kayuhan sepeda mendekatkannya pada sesuatu yang tidak pernah ia inginkan—tatapan merendahkan, tawa yang menusuk, dan rasa hampa yang semakin dalam.
Sesampainya di depan gerbang sekolah, Arkan menurunkan kakinya dari pedal dan berhenti. Ia turun perlahan, mendorong sepedanya masuk ke area parkir. Tangannya sedikit gemetar saat ia mengunci ban sepeda itu, memastikan semuanya aman, seolah itu satu-satunya hal yang bisa ia kendalikan pagi ini.
“Pagi, Kan,” sapa satpam sekolah dengan suara hangat.
Arkan mengangkat wajahnya sebentar, mencoba tersenyum tipis. “Pagi, Pak.”
Senyuman itu tidak bertahan lama. Begitu ia berbalik, wajahnya kembali menunduk. Tangannya tanpa sadar mengepal, kukunya menekan kulit telapak tangannya sendiri. Ada rasa yang sulit dijelaskan—campuran antara takut, cemas, dan sesuatu yang sudah terlalu lama ia rasakan hingga menjadi biasa.
Belum sempat ia melangkah jauh, suara tawa terdengar dari belakang.
“Akhirnya, si gendut ini datang juga.”
Langkah Arkan langsung terhenti. Suara itu terlalu familiar. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang berbicara.
Dimas Raditya.
Disusul oleh tawa dua orang lainnya—Reza dan Kevin. Tiga nama yang sudah menjadi bagian dari ketakutan Arkan setiap hari.
Mereka berjalan mendekat dengan santai, seolah dunia ini memang milik mereka. Dimas berada di depan, wajahnya penuh percaya diri, matanya menatap Arkan seperti melihat sesuatu yang rendah. Reza berjalan di sampingnya dengan senyum sinis, sementara Kevin terlihat santai, tapi matanya penuh permainan.
“Kamu bawa uangmu, kan?” tanya Kevin sambil merangkul bahu Arkan.
Tubuh Arkan yang besar tidak membuatnya kuat. Dengan berat hampir seratus kilogram dan tinggi yang tidak sebanding, ia justru menjadi sasaran empuk. Tangannya menggenggam tali tasnya erat.
“Aku… tidak punya uang sama sekali,” ucapnya pelan, hampir tak terdengar.
Kevin tersenyum tipis. “Serius?”
Arkan membuka tasnya dengan tangan gemetar. Ia mengeluarkan sebuah kotak bekal sederhana, lalu membukanya perlahan. Di dalamnya hanya ada beberapa potong ubi rebus.
“Aku hanya punya ini… tapi ini cuma cukup untukku saja,” katanya, suaranya semakin mengecil.