Coin: Rewrite Fate

Baggas Prakhaza
Chapter #2

Tawa yang Menyakitkan

Lorong sekolah pagi itu sudah mulai ramai, dipenuhi suara langkah kaki, obrolan ringan, dan tawa yang saling bersahutan. Namun di antara semua itu, Arkan Virel berjalan seperti bayangan yang tidak memiliki tempat. Kepalanya menunduk, langkahnya pelan, seolah setiap pijakan harus dipastikan tidak menarik perhatian siapa pun. Ia menggenggam tali tasnya erat, begitu erat hingga jemarinya sedikit memutih.

Sisa-sisa kejadian di halaman tadi masih terasa jelas di benaknya. Debu yang menempel di pakaiannya mungkin sudah ia bersihkan, tapi rasa yang tertinggal tidak bisa dihapus begitu saja. Tatapan orang-orang, tawa yang menggema, dan suara-suara yang merendahkan masih berputar di kepalanya seperti gema yang tidak mau hilang.

Arkan mencoba mengabaikannya. Ia selalu mencoba mengabaikan segalanya.

Langkahnya membawanya ke arah tangga menuju lantai dua, tempat kelasnya berada. Setiap anak tangga terasa lebih berat dari biasanya. Bukan karena tubuhnya, tapi karena pikirannya yang dipenuhi hal-hal yang tidak pernah ia minta. Ia menarik napas perlahan, mencoba menenangkan diri, mencoba menjadi “tidak terlihat” seperti yang selalu ia lakukan.

Namun saat ia sampai di pertengahan tangga menuju lantai dua, langkahnya terhenti.

Sebuah suara keras terdengar tepat di depannya—suara tubuh yang jatuh di lantai.

Arkan mengangkat wajahnya sedikit, cukup untuk melihat apa yang terjadi. Seorang siswa terjatuh di lantai tangga, kacamata yang dikenakannya sedikit bergeser, hampir terlepas. Buku-buku yang ia bawa berserakan di anak tangga. Dua siswa lain berdiri di depannya, wajah mereka penuh kesal.

“Kenapa nggak bilang dari tadi, hah?” bentak salah satu dari mereka dengan nada tinggi. “Ujian harian, tahu nggak? Kunci jawaban di mana?”

Siswa yang jatuh itu mencoba bangkit perlahan, tangannya gemetar saat meraih kacamata yang hampir terjatuh. Ia membenarkan posisinya, lalu berdiri dengan napas sedikit terengah.

Itu Raka Elvano.

Di sekolah, ia dikenal dengan berbagai julukan—cungkring, si kutu buku, bahkan mata empat. Tidak pernah ada yang benar-benar memanggilnya dengan namanya sendiri, seolah identitasnya sudah digantikan oleh ejekan yang melekat.

Namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda.

Raka tidak langsung menunduk seperti biasanya. Ia berdiri tegak, meskipun tubuhnya terlihat sedikit gemetar.

“Kalau kalian ingin jawaban,” ucapnya sambil membenarkan kacamatanya, “belajar sendiri.”

Suaranya tidak terlalu keras, tapi cukup jelas untuk didengar. Ada nada tegas di dalamnya, sesuatu yang jarang muncul dari dirinya.

“Aku yang capek-capek belajar,” lanjutnya, “sedangkan kalian enak saja ingin lihat jawabanku.”

Kalimat itu menggantung di udara, membawa suasana yang tiba-tiba berubah.

Kedua siswa di depannya saling pandang, lalu tertawa kecil. Tapi tawa itu tidak memiliki arti lucu. Itu adalah tawa yang mengandung ancaman.

“Oh, jadi sekarang kamu berani, ya?” salah satu dari mereka melangkah maju. “Sok pintar banget kamu.”

Yang satu lagi ikut maju, menatap Raka dengan sinis. “Kasih saja jawabannya, selesai. Nggak usah sok idealis.”

Raka menelan ludah. Arkan bisa melihatnya dari tempatnya berdiri. Tubuh Raka tidak sebesar mereka, bahkan terlihat jauh lebih kecil. Tapi ia tidak mundur.

“Aku bilang nggak,” jawabnya pelan, namun tegas.

Tangga itu tiba-tiba terasa lebih sempit. Udara di sekitarnya menjadi berat.

Lihat selengkapnya