Pintu kelas X.2 terbuka perlahan saat Arkan Virel mendorongnya dengan tangan yang sedikit gemetar. Engsel pintu itu mengeluarkan bunyi pelan yang seolah memanggil perhatian semua orang di dalam. Dan benar saja, hampir seluruh kepala di dalam kelas itu menoleh ke arahnya dalam waktu bersamaan.
Tatapan mereka tidak ramah.
Beberapa hanya melihat sekilas lalu kembali ke aktivitas mereka, namun sebagian besar justru memperhatikannya lebih lama, dengan senyum tipis yang mengandung ejekan. Bisik-bisik mulai terdengar, pelan namun cukup jelas untuk ditangkap oleh telinga Arkan.
“Itu dia…”
“Gila, gede banget…”
“Kayaknya kursinya bakal patah…”
Tawa kecil menyusul, tidak keras, tapi cukup untuk membuat dada Arkan terasa semakin sesak. Ia menunduk, mencoba menghindari tatapan mereka, mencoba berpura-pura tidak mendengar apa pun. Namun suara-suara itu seperti menempel di kepalanya, terus berulang tanpa henti.
Langkahnya terasa berat saat ia berjalan masuk ke dalam kelas. Setiap langkah seperti melewati tatapan yang menusuk dari berbagai arah. Tanpa sadar, Arkan melirik kedua tangannya. Jemarinya besar, kulitnya tidak sehalus milik orang lain. Lalu sekilas ia melihat ke arah perutnya yang menonjol di balik seragam sekolah.
Apa aku seburuk itu di mata mereka? batinnya lirih.
Ia tidak pernah benar-benar bertanya sebelumnya. Ia hanya menerima. Tapi hari ini, entah kenapa, pertanyaan itu muncul begitu saja.
Belum sempat ia menemukan jawaban, tubuhnya tiba-tiba terdorong sedikit ke depan.
“Maaf!”
Suara itu lembut, sedikit terburu-buru.
Arkan menoleh dan melihat seorang gadis di belakangnya yang tampak panik. Beberapa buku yang ia bawa terjatuh ke lantai akibat tabrakan kecil itu. Rambutnya sedikit berantakan, dan napasnya terlihat belum stabil.
Nadira Althaea.
Arkan langsung berjongkok tanpa banyak bicara, membantu mengumpulkan buku-buku yang berserakan. Tangannya bergerak pelan, berhati-hati, seperti takut membuat kesalahan lagi. Nadira juga berjongkok, mengambil buku-bukunya dengan gerakan cepat.
“Maaf, aku nggak sengaja,” ucap Nadira lagi, kali ini lebih pelan.
Arkan menggeleng sedikit. “Nggak apa-apa…”
Namun pemandangan itu tidak dibiarkan berlangsung tenang.
“Heh, lihat tuh…”
“Dua gendut lagi main drama romantis…”
“Cocok sih, sama-sama gagal…”
Tawa pecah di dalam kelas. Lebih keras dari sebelumnya. Lebih menyakitkan.
Arkan terdiam. Tangannya berhenti sejenak, menggenggam buku yang baru saja ia ambil. Ia tidak berani mengangkat kepala.
Nadira juga terdiam.
Namun berbeda dengan Arkan, wajah Nadira tidak menunjukkan rasa takut. Ia hanya menarik napas pelan, lalu berkata dengan suara cukup tenang, meskipun masih terdengar lirih.
“Tidak usah didengarkan.”
Arkan menoleh sedikit ke arahnya. Nadira tidak melihat ke arah orang-orang yang menertawakan mereka. Tatapannya lurus ke depan, dingin, seolah suara-suara itu tidak ada artinya.
“Terima kasih sudah membantuku,” lanjut Nadira, kali ini suaranya hampir seperti bisikan. Namun ada sesuatu di dalamnya—emosi yang tertahan, sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata sederhana.
Ia menunduk sedikit, lalu berbisik lebih pelan lagi.
“Suatu saat… aku akan membalas mereka semua.”
Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi bagi Arkan, itu seperti sesuatu yang asing. Ia tidak pernah berpikir sejauh itu. Tidak pernah membayangkan dirinya bisa membalas.
Ia hanya diam.
Selalu diam.
Mereka berdua berjalan menuju bangku di sudut belakang kelas. Tempat yang paling jauh dari perhatian, tapi justru menjadi tempat yang paling sering dijadikan sasaran.
Arkan duduk perlahan, Nadira di sampingnya. Keduanya menunduk, tenggelam dalam dunia masing-masing. Tidak ada percakapan. Tidak ada senyum. Hanya diam yang panjang dan berat.
Di kelas itu, seolah tidak ada tempat bagi mereka.
Waktu berjalan lambat.
Suara tawa masih terdengar sesekali. Bisikan-bisikan kecil terus muncul, seperti gelombang yang tidak pernah berhenti. Arkan mencoba menahan semuanya. Ia mencoba tetap tenang.
Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.
Pintu kelas terbuka dengan keras.
Dimas, Reza, dan Kevin masuk dengan langkah santai, seolah kelas itu adalah milik mereka. Suasana langsung berubah. Beberapa siswa yang tadinya berisik langsung diam, yang lain berpura-pura sibuk.
Reza melirik ke arah belakang kelas. Senyum tipis muncul di wajahnya.
Ia berjalan langsung ke arah Nadira.
“Hai, Nadira gendut,” ucapnya dengan nada mengejek. “Bagaimana kabarmu?”
Nadira tidak menjawab.
Ia hanya menunduk, tangannya menggenggam ujung rok seragamnya pelan.
Reza mengangkat alisnya. “Nggak mau jawab?”
Ia mendekat sedikit, lalu memukul meja Nadira dengan keras.
Buk!
Suara itu menggema di dalam kelas.
Arkan terkejut. Dadanya berdegup kencang.