Coin: Rewrite Fate

Baggas Prakhaza
Chapter #4

Titik Rendah

Hujan yang sejak siang menggantung di langit akhirnya turun tanpa ampun saat bel pulang berbunyi. Awalnya hanya rintik kecil yang menempel di jendela kelas, namun kini berubah menjadi deras, menghantam atap dan tanah dengan suara yang terus menerus, seolah langit sedang meluapkan sesuatu yang terlalu lama ditahan. Para siswa berlarian keluar, sebagian tertawa sambil menutupi kepala mereka dengan tas, sebagian lagi berdesakan di bawah atap untuk menunggu hujan reda. Namun bagi Arkan Virel, semua itu terasa jauh, seolah ia berdiri di dunia yang berbeda.

Ia berjalan pelan menuju parkiran sepeda dengan tubuh yang masih terasa nyeri. Bekas pukulan di wajahnya mulai terasa semakin sakit seiring waktu, bibirnya yang sempat berdarah kini terasa kaku, dan punggungnya masih menyimpan rasa perih dari benturan sebelumnya. Setiap langkah yang ia ambil seperti mengingatkannya bahwa hari ini belum selesai menyakitinya.

Saat ia sampai di parkiran, langkahnya terhenti. Untuk beberapa detik, ia hanya berdiri diam di bawah hujan yang semakin deras, menatap sesuatu yang seharusnya menjadi hal paling biasa dalam hidupnya—sepeda tuanya. Namun kali ini, sepeda itu tidak lagi tampak seperti yang ia kenal.

Kedua ban sepeda itu hilang, hanya menyisakan velg yang menyentuh tanah. Rangkanya bengkok tidak beraturan, seperti dipaksa menahan tekanan yang terlalu kuat, dan stangnya patah, menggantung miring seolah tidak lagi memiliki fungsi. Sepeda itu bukan hanya rusak, melainkan dihancurkan dengan sengaja.

Arkan mendekat perlahan, matanya tidak berkedip, seperti tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Tangannya terangkat, menyentuh rangka yang dingin dan basah, mencoba memahami kenyataan yang ada di depannya. Napasnya terasa berat, bukan karena ia kelelahan, tetapi karena sesuatu di dalam dirinya mulai runtuh.

“Siapa yang melakukan ini…” gumamnya pelan, suaranya tenggelam oleh suara hujan yang semakin keras.

Belum sempat ia mendapatkan jawaban, suara tawa terdengar dari kejauhan. Tawa itu keras, penuh kepuasan, dan terlalu familiar untuk diabaikan. Arkan menoleh perlahan, dan di sanalah mereka berdiri—Dimas, Reza, dan Kevin—di bawah atap, tidak terkena hujan, menatapnya seperti sedang menikmati pertunjukan.

Kevin melangkah sedikit ke depan, wajahnya masih menyimpan bekas kemerahan akibat pukulan Arkan sebelumnya, namun senyum di bibirnya jauh lebih tajam dari itu.

“Bagaimana?” katanya dengan nada mengejek. “Suka nggak hadiah dari gue?”

Reza tertawa keras, menepuk bahu Kevin seolah mengapresiasi hasil kerjanya. Dimas hanya berdiri dengan ekspresi santai, namun matanya menunjukkan bahwa semua ini memang direncanakan.

Arkan tidak menjawab. Ia hanya menatap mereka, dan untuk pertama kalinya, bukan rasa takut yang muncul, melainkan sesuatu yang lebih dalam—sesuatu yang sudah terlalu lama ia pendam.

Namun sebelum ia sempat melakukan apa pun, Kevin kembali berbicara.

“Masih kurang, sih,” katanya sambil menyeringai. “Harusnya gue hancurin sekalian semuanya.”

Tawa kembali pecah, menggema di tengah suara hujan. Beberapa siswa yang masih berada di sekitar parkiran melirik ke arah mereka, sebagian tersenyum kecil, sebagian memilih pergi, namun tidak ada satu pun yang mendekat.

Tidak ada yang peduli.

Tidak ada yang mencoba menghentikan.

Dan itu terasa lebih menyakitkan dari apa pun.

Setelah beberapa saat, Dimas mengangkat bahu seolah sudah bosan, lalu berbalik. “Udah, ayo pergi. Nggak seru kalau dia cuma diam.”

Kevin dan Reza mengikuti, masih tertawa saat mereka berjalan menjauh, meninggalkan Arkan sendirian di tengah hujan yang semakin deras.

Arkan tetap berdiri di sana, menatap sepeda yang kini sudah tidak bisa digunakan. Air hujan membasahi seluruh tubuhnya, mencampur dengan air mata yang mulai jatuh tanpa ia sadari. Ia tidak terisak, tidak berteriak, hanya berdiri dalam diam, membiarkan semuanya terjadi begitu saja.

Perlahan, ia berjongkok, tangannya menyentuh velg yang kosong. Ia mencoba mengangkat bagian yang bengkok, mencoba memperbaikinya, seolah dengan usaha itu semuanya bisa kembali seperti semula. Namun setiap sentuhan hanya menegaskan satu hal—tidak ada yang bisa diperbaiki.

Seperti dirinya.

Seperti hidupnya.

Arkan menunduk, bahunya bergetar, namun tidak ada suara yang keluar. Ia hanya menghela napas panjang, mencoba menahan sesuatu yang sudah tidak bisa ia tahan lagi. Untuk pertama kalinya, ia tidak hanya merasa lemah, tetapi juga merasa benar-benar tidak berarti.

Akhirnya, ia berdiri. Tanpa membawa apa pun, tanpa menoleh lagi ke sepeda itu, ia mulai berjalan meninggalkan parkiran. Langkahnya pelan, namun pasti. Tidak ada tujuan yang jelas, namun di dalam hatinya, ia sudah tahu ke mana ia akan pergi.

Lihat selengkapnya