Malam itu terasa jauh lebih sunyi dari biasanya di rumah kecil milik nenek Arkan. Hujan yang sejak sore mengguyur kota kini hanya menyisakan rintik halus yang jatuh perlahan di atas atap seng, menciptakan irama monoton yang justru membuat suasana semakin terasa kosong. Lampu kamar Arkan menyala redup, memperlihatkan ruangan sederhana dengan dinding yang mulai kusam dan udara yang sedikit lembap, seolah waktu berjalan lebih lambat di tempat itu.
Arkan duduk di tepi tempat tidurnya dengan tubuh yang masih menyimpan rasa nyeri dari kejadian hari itu. Bibirnya yang sempat berdarah kini mulai mengering, namun setiap kali ia menggerakkan wajahnya sedikit, rasa perih itu kembali muncul. Meski begitu, rasa sakit itu tidak lagi menjadi hal utama yang ia pikirkan. Tangannya menggenggam ponsel dengan erat, sementara matanya terpaku pada layar yang menampilkan satu pesan yang belum ia balas—pesan dari nomor yang tidak dikenal, pesan yang menghentikannya tepat di ambang keputusasaan.
Ia membacanya sekali lagi dengan perlahan, seolah takut maknanya berubah jika ia terlalu cepat memahaminya. Kalimat itu sederhana, singkat, dan tidak rumit, namun terasa jauh lebih berat dari apa pun yang pernah ia dengar sebelumnya.
“Kamu mau merubah takdirmu?”
Arkan menelan ludah, jantungnya berdetak lebih cepat tanpa ia sadari. Untuk beberapa saat, ia hanya menatap layar itu dalam diam, seolah berharap ada kelanjutan yang muncul dengan sendirinya tanpa perlu ia lakukan apa-apa. Namun tidak ada yang berubah, dan pada akhirnya ia harus membuat pilihan.
“Kalau ini benar,” gumamnya pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri, “maka semuanya akan berubah dalam hidupku.”
Tangannya sedikit gemetar saat ia menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan keberanian yang selama ini tidak pernah ia miliki.
“Kalau tidak…,” lanjutnya dengan suara yang perlahan berubah tegas, “aku yang akan merubahnya sendiri.”
Kalimat itu terdengar sederhana, namun bagi Arkan, itu adalah sesuatu yang belum pernah ia katakan sebelumnya. Untuk pertama kalinya, ia tidak hanya menerima keadaan, tetapi mulai menantang apa yang selama ini ia anggap sebagai takdir.
Tanpa berpikir lebih lama, ia mengetik balasan singkat.
“Iya.”
Ia menekan tombol kirim.
Beberapa detik terasa seperti menit yang panjang. Jantungnya terus berdetak, menunggu sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak yakin akan datang. Namun tidak lama kemudian, layar ponselnya kembali menyala, menampilkan pesan baru yang langsung ia buka tanpa ragu.
“Misi pertama: Pergi ke kamar mandi. Lihat dirimu di cermin. Setelah itu, pukul cermin tersebut hingga pecah.”
Arkan mengernyit, kebingungan langsung muncul di wajahnya. “Misi?” gumamnya pelan. “Misi apaan ini…”
Belum sempat ia memahami maksudnya, pesan berikutnya kembali masuk.
“Reward: Coin Emas x2.”
Ia semakin bingung. “Coin emas? Dua?” ucapnya lirih, mencoba menghubungkan semuanya dengan logika yang ia miliki. Namun sebelum ia sempat menyimpulkan apa pun, pesan lain kembali muncul.
“Karena kamu yang pertama, dan aku yang memilihmu, aku sedikit bermurah hati. Lakukan misi ini dan lampaui batas dalam dirimu. Kamu akan tahu apa fungsi coin ini.”
Jantung Arkan berdetak lebih cepat. Ada sesuatu dalam dirinya yang mendorongnya untuk tidak mengabaikan pesan ini. Mungkin karena ia sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dipertahankan, atau mungkin karena ia sudah terlalu lelah hidup seperti ini.
Tanpa berpikir panjang, ia bangkit dan berjalan cepat menuju kamar mandi. Langkahnya terasa terburu-buru, hampir seperti berlari, seolah ia takut kehilangan kesempatan yang bahkan belum ia pahami sepenuhnya. Ia menyalakan lampu kamar mandi dan berdiri di depan cermin yang sedikit buram oleh uap air.
Saat ia melihat pantulannya, dadanya terasa sesak.
Tubuh besar yang selama ini menjadi bahan ejekan, wajah yang penuh luka, mata yang lelah dan kehilangan harapan—semuanya kembali menatapnya dari balik cermin. Tidak ada yang berubah. Tidak ada yang lebih baik. Semua yang ia benci dari dirinya sendiri ada di sana.