Coin: Rewrite Fate

Baggas Prakhaza
Chapter #6

Menghilang

Setelah melihat dirinya sendiri di cermin toilet sekolah dan menyadari bahwa semua yang terjadi bukanlah mimpi, Arkan tidak kembali ke kelas. Ia berdiri cukup lama di depan cermin itu, menatap wajah yang sama sekali tidak ia kenali, wajah yang terlalu sempurna untuk menjadi miliknya. Dada bidang, rahang tegas, mata yang kini terlihat lebih hidup, dan tubuh yang tidak lagi dipenuhi lemak seperti sebelumnya. Setiap bagian dirinya berubah, seolah seseorang telah merancang ulang tubuhnya tanpa menyisakan sedikit pun dari versi lamanya.

Perasaan asing itu tidak hanya datang dari luar, tetapi juga dari dalam dirinya. Ada sesuatu yang berbeda dalam cara ia bernapas, dalam cara ia berdiri, bahkan dalam cara ia memandang dunia. Ia tidak lagi merasa kecil. Ia tidak lagi merasa tertindas. Namun di saat yang sama, ia juga tidak sepenuhnya merasa menjadi dirinya sendiri.

Tanpa banyak berpikir, Arkan keluar dari toilet dan berjalan melewati lorong sekolah yang mulai dipenuhi siswa. Beberapa orang masih meliriknya, beberapa bahkan berbisik, tetapi kali ini ia tidak peduli. Ia tidak kembali ke kelas, tidak mencari Nadira, tidak juga menghadapi siapa pun. Langkahnya terus berjalan menuju gerbang sekolah, meninggalkan semua yang selama ini menjadi bagian dari hidupnya.

Ia pulang hanya untuk mengambil jaket dan ponselnya, lalu kembali keluar tanpa banyak bicara dengan neneknya. Ada satu tempat yang terlintas di pikirannya, tempat yang jauh dari keramaian, tempat di mana ia bisa benar-benar sendirian dan memahami apa yang sedang terjadi.

Air terjun di pinggiran kota.

Perjalanan ke sana tidak dekat, namun Arkan tidak merasakannya seperti dulu. Tubuhnya terasa ringan, langkahnya cepat, bahkan napasnya terasa lebih teratur. Seolah tubuh barunya ini tidak mengenal lelah. Ia terus berjalan hingga akhirnya suara gemuruh air mulai terdengar dari kejauhan.

Saat ia sampai, pemandangan itu langsung menyambutnya. Air terjun yang tinggi menjulang, air yang jatuh dengan deras menghantam bebatuan di bawahnya, menciptakan percikan yang menyebar ke segala arah. Udara di sekitarnya terasa dingin dan segar, kontras dengan panas yang ia rasakan malam sebelumnya.

Arkan berjalan mendekat perlahan hingga ia bisa melihat pantulan dirinya di permukaan air yang mengalir di bawah. Ia menunduk, menatap bayangannya dengan serius, mencoba menerima kenyataan yang masih terasa asing itu.

Wajah itu bukan lagi miliknya yang dulu.

Wajah itu terlalu sempurna.

Ia mengangkat tangannya, melihat otot-otot yang kini terbentuk jelas tanpa usaha. Tidak ada lagi lemak berlebih. Tidak ada lagi tubuh yang menjadi bahan ejekan. Tubuhnya kini tampak seperti seseorang yang telah berlatih selama bertahun-tahun, padahal ia tahu dirinya tidak pernah melakukan itu.

“Ini… benar-benar aku?” gumamnya pelan.

Tangannya menyentuh wajahnya sendiri, meraba setiap sudutnya, memastikan bahwa ini nyata. Ia bahkan mencoba mencubit pipinya, berharap semua ini hanya mimpi, tetapi rasa sakit yang ia rasakan justru menegaskan bahwa ini adalah kenyataan.

Ia menatap dirinya lebih lama, dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa benci.

Namun perasaan itu tidak sepenuhnya membawa ketenangan.

Ada sesuatu yang mengganggu.

Sesuatu yang terasa seperti konsekuensi yang belum ia pahami.

Saat ia masih tenggelam dalam pikirannya, ponselnya tiba-tiba berbunyi. Suara notifikasi itu terdengar jelas di tengah gemuruh air terjun. Arkan langsung mengambilnya dan melihat layar yang kembali menyala.

Pesan dari nomor yang sama.

Dari sosok yang menyebut dirinya sebagai Mr. Coin.

“Bagaimana dengan penampilanmu? Kamu suka?”

Arkan menatap layar itu tanpa berkedip. Ia belum sempat menjawab ketika pesan berikutnya langsung muncul.

“Jika kamu suka, aku sangat senang. Mari buktikan kepada dunia bahwa kita bisa mengubah takdir.”

Arkan mengerutkan kening. Kata “kita” terasa aneh baginya, seolah ia tidak lagi sendirian dalam perjalanan ini.

Namun pesan berikutnya membuatnya terdiam.

Lihat selengkapnya