Waktu berjalan tanpa terasa sejak hari Arkan menghilang dari sekolah dan dari kehidupan lamanya. Dunia yang dulu terasa sempit kini seolah terbuka, bukan karena ia benar-benar bebas, tetapi karena ia memilih menjauh dari semua yang pernah menyakitinya. Selama dua minggu, Arkan menjalani sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya—hidup yang dipenuhi misi, tantangan, dan perubahan yang terus-menerus. Ponselnya kini bukan sekadar alat komunikasi, melainkan pusat dari segalanya, jembatan antara dirinya dan sosok misterius bernama Mr. Coin.
Pada awalnya, misi-misi yang ia terima terasa sederhana, bahkan hampir seperti lelucon jika dibandingkan dengan apa yang ia alami di sekolah. Ia diminta membantu orang tua menyeberang jalan, mengangkat barang milik seseorang yang kesulitan, hingga mengembalikan dompet yang jatuh di trotoar. Hal-hal kecil yang sebelumnya mungkin akan ia abaikan, kini ia lakukan dengan kesadaran penuh. Setiap tindakan itu memberinya imbalan, coin demi coin yang perlahan terkumpul, membentuk sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar angka di layar ponselnya.
Namun seiring waktu, Arkan mulai merasakan perubahan dalam dirinya. Bukan hanya secara fisik yang semakin kuat dan tangguh, tetapi juga dalam cara berpikirnya. Ia mulai melihat dunia dengan cara yang berbeda, seolah setiap tindakan memiliki nilai, setiap keputusan membawa konsekuensi yang nyata. Dan di balik semua itu, ada satu hal yang terus tumbuh dalam dirinya—obsesi.
Obsesi untuk menjadi lebih kuat.
Obsesi untuk tidak kembali menjadi dirinya yang dulu.
Obsesi untuk mengumpulkan lebih banyak coin.
Hari demi hari, misi yang ia terima mulai meningkat dalam tingkat kesulitannya. Tidak lagi sekadar membantu, tetapi mulai menantang batas kemampuannya, menguji keberanian, bahkan moralitasnya. Namun Arkan tetap melakukannya, tanpa banyak bertanya. Setiap misi yang berhasil ia selesaikan memberikan kepuasan tersendiri, seolah ia sedang membangun ulang dirinya dari nol.
Dan hingga akhirnya, setelah dua minggu penuh, ia mendapatkan sesuatu yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.
Satu coin hitam.
Saat melihatnya muncul di layar ponsel, Arkan terdiam cukup lama. Ia tahu dari penjelasan sebelumnya bahwa coin hitam bukanlah sesuatu yang biasa. Nilainya jauh lebih tinggi, kekuatannya jauh lebih besar, dan konsekuensinya… mungkin juga jauh lebih berat. Namun bukannya takut, Arkan justru merasakan sesuatu yang lain—antusiasme yang sulit dijelaskan.
Ia ingin lebih.
Ia ingin melihat sejauh mana semua ini bisa membawanya.
Namun hari itu, sesuatu yang berbeda terjadi.
Langit mulai gelap saat Arkan berjalan melewati sebuah lorong kecil di pinggiran desa. Tempat itu jarang dilalui orang, dengan jalan setapak yang lembap, dinding yang dipenuhi lumut, dan pencahayaan yang minim. Suasana di sana terasa tidak nyaman, bahkan cenderung berbahaya. Ini adalah tempat yang biasanya dihindari orang, terutama saat sore menjelang malam.
Langkah Arkan melambat.
Ada sesuatu yang terasa tidak beres.
Dan benar saja, tidak lama kemudian ia mendengar suara ribut dari ujung lorong. Suara seorang gadis yang terdengar ketakutan bercampur dengan tawa kasar beberapa pria.
Arkan berhenti.
Matanya menyipit, mencoba melihat lebih jelas.
Di sana, tiga pria bertubuh besar dengan tato dan bekas luka di tubuh mereka tampak mengelilingi seorang gadis. Cara mereka berdiri, cara mereka berbicara, dan cara mereka tertawa membuat situasi itu tidak perlu dijelaskan lagi.
Ini bukan sekadar masalah biasa.
Ini adalah sesuatu yang berbahaya.
Tepat saat itu, ponsel Arkan berbunyi.
Ia menatap layar.
“Misi kali ini: bantulah gadis itu dan selamatkan. Pastikan kamu melumpuhkan tiga preman itu.”