Malam itu udara terasa jauh lebih dingin dibanding biasanya ketika Arkan kembali ke rumah kecil milik neneknya. Langkahnya pelan saat melewati halaman depan yang masih basah oleh hujan sore tadi. Pikirannya belum benar-benar tenang setelah kejadian di lorong desa. Sampai sekarang ia masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana tubuhnya bergerak begitu cepat saat melawan para preman, bagaimana pukulannya mampu menjatuhkan seseorang hanya dalam satu serangan, dan bagaimana tatapan takut sekaligus kagum dari gadis yang ia selamatkan terus terbayang di kepalanya.
Arkan tidak tahu apakah ia harus merasa bangga atau takut terhadap dirinya sendiri. Semua yang terjadi beberapa minggu terakhir terasa terlalu tidak masuk akal untuk diterima sebagai kenyataan. Hidupnya berubah terlalu cepat. Dari seorang anak laki-laki yang bahkan tidak berani membalas hinaan, kini perlahan berubah menjadi seseorang yang bisa menjatuhkan tiga orang dewasa tanpa kesulitan berarti.
Lampu ruang tamu masih menyala redup. Dari balik jendela terlihat neneknya sedang duduk di kursi tua sambil merajut seperti biasanya. Pemandangan itu terasa hangat dan damai, sangat berbeda dengan dunia baru yang kini menyeret Arkan semakin dalam. Rumah kecil itu masih sama seperti dulu, sederhana, sedikit lembap, dan dipenuhi aroma minyak kayu putih yang selalu dipakai neneknya setiap malam. Namun Arkan merasa dirinya sendiri sudah tidak sama lagi.
Saat pintu dibuka, suara kayu tua yang berderit memecah kesunyian malam. Neneknya langsung menoleh dan tersenyum kecil begitu melihat cucunya pulang. Namun seperti biasanya akhir-akhir ini, senyum itu disertai tatapan yang sulit dijelaskan. Bukan takut, melainkan bingung dan khawatir. Perubahan Arkan terlalu drastis untuk dianggap normal, bahkan oleh orang yang paling mengenalnya sejak kecil.
“Kamu pulang malam lagi,” ucap neneknya lembut sambil meletakkan rajutannya.
Arkan melepas jaketnya perlahan lalu mengangguk kecil. “Ada sedikit urusan, Nek.”
Neneknya memperhatikan Arkan beberapa saat lebih lama. Tatapan wanita tua itu seolah mencoba melihat sesuatu yang tersembunyi di balik mata cucunya. Tubuh Arkan memang berubah menjadi jauh lebih tinggi dan atletis, wajahnya pun terlihat sangat berbeda dibanding sebelumnya, tetapi bukan itu yang paling membuat neneknya khawatir. Ada sesuatu dalam cara Arkan berjalan, dalam cara ia menatap, yang terasa berubah perlahan.
“Kamu sekarang berbeda,” kata neneknya pelan.
Arkan menghentikan langkahnya dan menoleh. “Berbeda bagaimana?”
Neneknya tersenyum tipis, tetapi senyum itu tidak sepenuhnya tenang. “Dulu kamu berjalan seperti anak yang takut dunia akan memukulnya kapan saja. Sekarang kamu berjalan seperti seseorang yang siap memukul balik dunia.”
Arkan terdiam mendengar ucapan itu. Ia tidak langsung menjawab, sementara neneknya kembali melanjutkan dengan suara lembut yang penuh arti.
“Kalau kamu sudah menemukan sesuatu yang membuatmu bisa melawan apa yang dulu tidak bisa kamu lawan, maka kamu juga harus berhati-hati, Arkan.”
“Hati-hati kenapa?” tanya Arkan sambil mengernyit kecil.
“Sifat manusia bisa berubah saat mendapatkan kekuatan,” jawab neneknya sambil menatap lurus ke arah cucunya. “Kadang rasa sakit membuat seseorang ingin menjadi lebih kuat, tetapi kalau kekuatan itu mulai menelan kemanusiaannya, maka dia akan kehilangan dirinya sendiri.”
Arkan hanya tersenyum kecil mendengar perkataan itu. Ia sama sekali tidak memahami maksud ucapan neneknya secara penuh. Baginya semua yang ia lakukan sekarang hanyalah cara agar dirinya tidak lagi diinjak-injak orang lain. Selama ia menjadi kuat, selama ia tidak lagi lemah, maka semuanya akan baik-baik saja.
“Iya, Nek,” jawabnya singkat.
Namun dalam hati, ia tidak terlalu memikirkan nasihat itu.
Setelah berpamitan, Arkan langsung masuk ke kamarnya. Ruangan kecil itu terasa lebih sempit dibanding sebelumnya. Tubuhnya yang sekarang membuat meja belajar tua dan tempat tidur kecilnya terlihat tidak proporsional lagi. Ia duduk di kursi dekat meja, lalu mengeluarkan ponselnya perlahan.
Layar itu langsung menyala.
Dan di sana, tepat di bagian paling atas sistem coin miliknya, muncul sesuatu yang membuat napas Arkan sedikit tertahan.
Satu coin hitam.
Warnanya sangat pekat, seperti lubang gelap yang tidak memantulkan cahaya sedikit pun. Bahkan hanya melihat simbol itu membuat dada Arkan terasa aneh, seolah ada tekanan yang tidak terlihat menekan pikirannya perlahan.
Coin hitam adalah tingkatan tertinggi yang pernah ia lihat sejauh ini. Jika coin emas mampu mengubah fisik manusia secara drastis, maka coin hitam berada jauh di atas itu. Sistem menjelaskan bahwa coin tersebut mampu melampaui batas kemanusiaan dan membuka akses menuju kekuatan yang tidak masuk akal.
Jari Arkan bergerak perlahan membuka menu kemampuan.
Puluhan pilihan muncul di layar ponselnya. Ada kemampuan menciptakan ilusi, menghilang, membaca pikiran, meningkatkan refleks secara ekstrem, bahkan kemampuan mengendalikan tubuh manusia lain. Semua terlihat seperti sesuatu yang hanya ada di film atau permainan.
Namun perhatian Arkan berhenti pada satu pilihan.
Telekinesis.