Coin: Rewrite Fate

Baggas Prakhaza
Chapter #9

Kembali ke Sekolah

Pagi itu Arkan terbangun dengan rasa sakit yang menusuk di kepalanya. Rasa nyeri itu begitu kuat hingga membuatnya langsung memegang pelipis sambil meringis pelan. Pandangannya masih sedikit kabur ketika ia mencoba duduk di lantai kamarnya. Napasnya terasa berat, sementara tubuhnya seperti baru saja dihantam sesuatu yang sangat besar semalaman.

Beberapa detik kemudian, matanya mulai fokus melihat keadaan kamar.

Arkan langsung terdiam.

Kamarnya berantakan.

Kursi belajar terbalik di sudut ruangan, buku-buku berserakan di lantai, lemari sedikit terbuka miring seperti baru ditarik paksa, bahkan kaca jendelanya terlihat retak halus di beberapa bagian. Selimutnya jatuh jauh dari tempat tidur, sementara beberapa barang kecil tampak berpindah tempat tanpa alasan jelas.

Arkan mengernyit bingung sambil berdiri perlahan. “Apa yang terjadi semalam…?” gumamnya pelan.

Ia mencoba mengingat sesuatu, tetapi ingatannya berhenti tepat setelah dirinya mengaktifkan update telekinesis menggunakan coin hitam. Setelah itu semuanya kosong. Ia sama sekali tidak ingat apa pun lagi.

Tanpa sadar, Aeris memang telah mengambil alih tubuh Arkan sepanjang malam untuk menyelesaikan proses sinkronisasi dan memperbarui tubuhnya agar mampu menerima kekuatan telekinesis level tinggi tanpa menghancurkan saraf dan pikirannya sendiri. Namun Arkan belum mengetahui hal itu.

Ia berjalan perlahan menuju kamar mandi sambil masih memegang kepalanya. Meski rasa sakit tadi mulai menghilang, ada sensasi aneh di dalam tubuhnya. Tubuhnya terasa jauh lebih ringan dan lebih responsif dibanding sebelumnya, seolah setiap bagian tubuhnya kini bekerja dengan sempurna.

Saat sampai di kamar mandi, Arkan menatap wajahnya sendiri di cermin beberapa saat. Mata merah yang muncul semalam sudah kembali menjadi cokelat seperti biasa, tetapi entah kenapa tatapannya terasa berbeda. Lebih tajam. Lebih hidup.

Tiba-tiba ia teringat sesuatu.

Telekinesis.

Arkan langsung menoleh ke arah sabun mandi yang berada di sudut wastafel. Tatapannya penuh rasa penasaran. Ia mencoba mengingat sensasi saat menggunakan kemampuan itu sebelumnya. Perlahan, ia mengangkat tangannya sedikit sambil fokus menatap sabun tersebut.

Awalnya tidak terjadi apa-apa.

Namun beberapa detik kemudian, sabun itu bergerak pelan.

Bergeser sedikit.

Lalu melayang perlahan ke arah tangannya.

Mata Arkan langsung membesar. “Berhasil…” gumamnya tidak percaya.

Sabun itu akhirnya jatuh tepat ke telapak tangannya tanpa disentuh sama sekali. Arkan menatap benda itu beberapa saat sebelum senyum kecil mulai muncul di wajahnya.

“Gila…” ucapnya pelan sambil tertawa kecil. “Ini benar-benar nyata.”

Rasa penasarannya langsung meningkat. Ia mulai mencoba berbagai hal lain. Gayung melayang perlahan dari gantungannya. Botol sampo bergerak sendiri mendekat kepadanya. Bahkan keran air menyala tanpa disentuh.

Beberapa menit kemudian, kamar mandi dipenuhi suara air yang terhempas ke lantai seperti seseorang sedang mandi dengan sangat cepat. Namun kenyataannya Arkan bahkan hampir tidak bergerak sama sekali. Air melayang membasahi tubuhnya dengan sendirinya, sabun bergerak mengikuti arah pikirannya, handuk melayang mendekat saat ia selesai mandi, sementara bajunya terbuka sendiri dari gantungan.

Arkan tertawa puas melihat semua itu.

“Ternyata punya kemampuan telekinesis hidup jadi lebih mudah ya,” katanya sambil tersenyum lebar.

Tiba-tiba terdengar suara perempuan tertawa kecil di dalam kepalanya.

Suara itu sangat jelas.

Arkan langsung membeku.

Jantungnya berdetak kencang.

“Siapa itu?!” ucapnya spontan sambil menoleh ke segala arah.

Tidak ada siapa-siapa di kamar mandi.

Namun suara itu terdengar lagi.

“Perkenalkan, Tuanku,” ucap suara perempuan itu lembut. “Aku adalah Aeris, program dari sistem misi yang telah Tuan kerjakan beberapa minggu terakhir.”

Arkan langsung terdiam.

Ia mencoba memahami apa yang baru saja ia dengar.

“Program?” gumamnya bingung dalam hati. “Seingatku aku tidak pernah memilih hal seperti itu.”

Aeris kembali tertawa kecil. Suaranya terdengar tenang dan lembut, tetapi ada sesuatu yang terasa sangat misterius dari nada bicaranya.

“Bukan Tuanku yang memilihku,” jawab Aeris melalui telepati. “Akulah yang memilih Tuanku.”

Arkan semakin bingung mendengar jawaban itu. Ia mengenakan seragam sekolah sambil terus mencoba memahami situasi yang terjadi. Baginya semua ini sudah terlalu jauh dari logika manusia biasa. Coin misterius, kekuatan aneh, perubahan tubuh, dan sekarang sebuah program hidup yang bisa berbicara di dalam pikirannya.

“Kenapa memilihku?” tanya Arkan dalam hati sambil memakai dasinya.

“Karena takdir,” jawab Aeris singkat.

“Apa maksudnya itu?”

“Jika Tuanku bertanya alasanku memilihmu,” lanjut Aeris lembut, “maka jawabannya hanya satu. Karena itu adalah dirimu.”

Arkan terdiam.

Lihat selengkapnya