Coin: Rewrite Fate

Baggas Prakhaza
Chapter #10

Menulis Ulang Takdir

Pagi itu suasana sekolah terasa jauh berbeda dibanding biasanya. Lorong-lorong yang biasanya dipenuhi suara candaan dan keluhan tentang tugas kini justru dipenuhi satu topik yang sama. Semua orang membicarakan Arkan. Nama itu terus terdengar di setiap sudut sekolah, mulai dari kantin, ruang kelas, hingga halaman belakang. Bahkan siswa-siswa yang sebelumnya tidak mengenal Arkan kini ikut penasaran setelah mendengar cerita tentang bagaimana seorang anak laki-laki yang dulu menjadi bahan hinaan tiba-tiba berubah menjadi sosok yang nyaris tidak bisa dikenali.

Beberapa siswi membicarakan perubahan wajah Arkan dengan antusias, sementara sebagian siswa laki-laki merasa iri sekaligus bingung. Tidak sedikit pula yang masih menganggap semua itu hanya rumor berlebihan. Namun satu hal yang tidak bisa dibantah siapa pun adalah kenyataan bahwa pagi tadi mereka semua melihat sendiri bagaimana Arkan menjatuhkan Dimas, Kevin, dan Reza tanpa kesulitan sedikit pun.

Anak laki-laki gemuk yang dulu selalu berjalan sambil menunduk kini berdiri tegak seperti orang yang benar-benar berbeda.

Di sisi lain sekolah, tepatnya di sebuah gudang tua yang sudah lama tidak dipakai, tiga sosok duduk dengan wajah kusut dan penuh luka. Dimas bersandar di tembok sambil memegangi pinggangnya yang masih terasa sakit akibat menghantam pagar sekolah. Kevin duduk di lantai sambil mengompres pipinya yang lebam, sementara Reza terus mengumpat pelan karena kepalanya masih terasa pening.

Gudang itu dipenuhi bau kayu lembap dan debu. Cahaya matahari hanya masuk sedikit dari celah ventilasi di bagian atas, membuat suasana di dalam terasa suram dan pengap.

“Sial…” geram Dimas sambil menendang kardus kosong di dekatnya. “Itu benar-benar Arkan?”

Reza mengusap sudut bibirnya yang luka lalu menggeleng pelan. “Mana mungkin… tubuhnya berubah kayak begitu cuma dalam beberapa minggu.”

Kevin sejak tadi hanya diam sambil memandangi layar ponselnya dengan serius. Wajahnya terlihat jauh lebih tegang dibanding dua temannya.

“Dan kekuatan itu…” lanjut Reza dengan nada tidak percaya. “Dia bahkan gak nyentuh gue waktu ngebanting gue ke tembok.”

Dimas mengepalkan tangannya kuat-kuat. Harga dirinya terasa hancur pagi itu. Selama ini mereka bertiga merasa menjadi penguasa sekolah karena status keluarga dan ketakutan orang-orang terhadap mereka. Namun hanya dalam beberapa menit, semuanya runtuh di depan Arkan.

“Yang paling bikin gue kesel…” gumam Dimas pelan, “tatapan dia tadi.”

Reza menoleh. “Tatapan?”

“Iya,” jawab Dimas sambil menatap lantai. “Tatapan orang yang udah gak takut sama kita lagi.”

Ruangan itu kembali hening beberapa detik sebelum Kevin tiba-tiba berdiri dari duduknya dengan wajah terkejut.

“Masuk lagi…” ucap Kevin pelan.

“Hah?” Dimas mengernyit. “Apa?”

Kevin memperlihatkan layar ponselnya kepada mereka berdua. Di sana terlihat pesan baru dari nomor misterius yang selama ini mereka abaikan.

"Bagaimana? Masih tidak percaya?"

Kevin menelan ludah perlahan.

Pesan berikutnya langsung muncul.

"Kau sudah merasakan sendiri kekuatan dari coin yang kuciptakan, bukan?"

Mata Kevin membesar membaca kalimat itu.

Belum selesai rasa terkejutnya, pesan lain kembali muncul.

"ARKAN berubah menjadi kuat karena dia percaya padaku. Sekarang… apa kau ingin bergabung juga?"

Kevin langsung berdiri sambil menunjuk layar ponselnya dengan penuh semangat.

“Karena ini!” ucapnya keras. “Karena pesan ini Arkan berubah!”

Dimas dan Reza saling berpandangan sesaat sebelum akhirnya tertawa keras bersamaan.

“Hahaha! Seriusan lo percaya begituan?” ejek Reza sambil memegang perutnya yang sakit karena tertawa.

“Itu jelas penipuan,” lanjut Dimas sambil menyeringai meremehkan. “Paling nanti lo disuruh transfer duit.”

Kevin mengepalkan tangannya kesal. “Tapi kalian lihat sendiri apa yang terjadi sama Arkan!”

“Ah sudahlah,” potong Reza sambil melambaikan tangan malas. “Orang kayak Arkan mungkin operasi plastik atau ikut bela diri diam-diam.”

Kevin memandang mereka berdua dengan tatapan tajam. Untuk pertama kalinya, ia merasa berada di posisi Arkan. Diremehkan dan ditertawakan.

“Kalian terlalu bodoh buat sadar,” ucap Kevin dingin.

Dimas langsung berhenti tertawa. “Apa lo bilang?”

Kevin memasukkan ponselnya ke saku celana lalu berdiri tegak.

“Akan gue buktiin kalau ini bukan hoax,” katanya serius. “Dan saat itu terjadi, kalian bakal nyesel.”

“Halah,” ejek Dimas sambil tertawa lagi. “Paling besok rekening orang tua lo habis.”

Reza ikut tertawa terbahak-bahak.

Namun Kevin tidak membalas lagi. Ia langsung berjalan keluar dari gudang dengan wajah penuh tekad. Begitu pintu gudang tertutup di belakangnya, ekspresinya perlahan berubah serius. Tatapan matanya kini jauh lebih tajam dibanding sebelumnya.

Ia kembali melihat layar ponselnya.

Jarinya bergerak perlahan mengetik balasan.

"Saya bergabung."

Sesaat setelah pesan itu terkirim, layar ponselnya langsung bergetar pelan.

Senyum tipis muncul di wajah Kevin.

Sementara itu di tempat lain, Arkan, Nadira, dan Raka sedang berada di atas gedung sekolah. Angin pagi bertiup cukup kencang di tempat itu, membuat suasana terasa lebih tenang dibanding keramaian di bawah. Dari atas sana mereka bisa melihat hampir seluruh area sekolah, termasuk para siswa yang masih sibuk membicarakan kejadian pagi tadi.

Nadira duduk sambil terus menatap Arkan dengan wajah bingung. Bahkan sampai sekarang ia masih sulit menerima kenyataan bahwa sahabat kecilnya bisa berubah sedrastis itu.

“Jadi… semua ini benar-benar karena pesan misterius itu?” tanya Nadira pelan.

Lihat selengkapnya