Matahari sore mulai condong ke arah barat ketika Arkan, Nadira, dan Raka berjalan berdampingan melewati jalan setapak menuju hutan di pinggir kota. Angin yang berembus perlahan menggoyangkan dedaunan di atas kepala mereka, menciptakan suara gemerisik yang terasa begitu akrab bagi ketiganya. Tempat itu bukan sekadar hutan biasa. Tempat itu adalah saksi dari banyak hal yang pernah mereka lalui bersama. Tempat pelarian. Tempat mereka bersembunyi ketika dunia terasa terlalu kejam untuk dihadapi.
Sudah sejak kecil mereka bertiga selalu bersama.
Di saat anak-anak lain bermain tanpa beban, mereka justru belajar bertahan dari hinaan orang-orang sekitar. Dunia seperti selalu memiliki alasan untuk memandang rendah mereka. Arkan dihina karena tubuhnya yang gemuk dan penampilannya yang dianggap buruk. Raka diejek karena tubuhnya kurus, berkacamata, dan terlalu pintar untuk ukuran anak seusianya. Sementara Nadira menjadi sasaran karena penampilannya yang sederhana dan tubuhnya yang tidak sesuai standar kecantikan yang sering dibanggakan anak-anak sekolah.
Namun anehnya, justru karena sama-sama terluka, mereka menjadi saling memahami.
Tidak ada yang benar-benar mengerti rasa sakit mereka selain satu sama lain.
Dan dari ketiganya, Arkan adalah orang pertama yang selalu mengulurkan tangan.
Meski dirinya sendiri sering ditindas, Arkan selalu mencoba tersenyum di depan Nadira dan Raka. Ia selalu berpura-pura kuat, seolah semua hinaan yang ia terima tidak pernah melukainya. Padahal setiap malam, ia sering menangis sendirian di kamarnya.
Namun Raka dan Nadira selalu mengetahui itu.
Mereka terlalu mengenal Arkan.
Mereka tahu ketika Arkan diam terlalu lama, itu berarti pikirannya sedang tenggelam dalam keputusasaan.
Mereka tahu ketika Arkan menunduk sambil tersenyum kecil, itu berarti ia sedang menyembunyikan rasa sakitnya.
Dan karena itulah, mereka selalu berada di sampingnya.
Ingatan masa kecil itu perlahan terlintas di kepala Arkan ketika mereka bertiga berjalan melewati jalan hutan yang dipenuhi akar pohon besar.
Dulu, ketika mereka masih SMP, Arkan pernah duduk termenung di tempat yang sama setelah dipukuli beberapa siswa senior. Saat itu wajahnya lebam, bibirnya berdarah, dan ia terus meminta maaf karena merasa telah merepotkan Nadira dan Raka.
Namun Raka justru duduk di sampingnya sambil membenarkan posisi kacamatanya.
“Aku akan menjadi otakmu,” ucap Raka saat itu dengan nada serius. “Kalau pikiranmu sudah mencapai batas, aku yang akan membantumu berpikir.”
Arkan masih mengingat jelas bagaimana ekspresi Raka saat mengatakan hal itu. Meski tubuhnya kecil dan tampak lemah, Raka selalu menjadi orang paling tenang di antara mereka. Dialah yang sering memikirkan cara melarikan diri dari pembully, menyusun alasan agar mereka tidak ketahuan guru, bahkan membantu Arkan belajar ketika nilainya mulai hancur.
Lalu Nadira yang duduk di sisi lain tersenyum lembut sambil menyerahkan plester luka.
“Kalau suasana mulai gelap dan panas,” katanya pelan, “aku akan jadi penyejuknya.”
Nadira memang selalu seperti itu. Kehadirannya membuat segalanya terasa sedikit lebih tenang. Bahkan ketika mereka bertiga sedang ketakutan, Nadira selalu mencoba tersenyum agar yang lain tidak ikut panik.
Saat itu Arkan hanya diam.
Ia menunduk sambil menggenggam kedua tangannya.
Baginya, Raka dan Nadira adalah orang-orang hebat. Mereka memiliki sesuatu yang tidak ia miliki.
Raka punya kecerdasan.
Nadira punya kelembutan.
Sedangkan dirinya?
Arkan merasa dirinya tidak memiliki apa-apa.
Ia hanya anak gemuk yang selalu menjadi bahan tertawaan.
Bahkan jauh di dalam hatinya, Arkan pernah berpikir bahwa jika dirinya tidak ada, Raka dan Nadira mungkin akan tetap baik-baik saja.
Namun Nadira seolah langsung mengetahui isi pikirannya saat itu.
Ia menepuk pundak Arkan perlahan.
“Keberanian.”
Raka ikut menepuk pundaknya dari sisi lain.
“Kejujuran.”
Arkan mengangkat wajahnya perlahan menatap mereka berdua.
“Arkan,” ucap Nadira lembut sambil tersenyum kecil, “keberanian dan kejujuranmu itu cahaya buat kami.”
“Kalau cahaya itu redup,” lanjut Raka, “kami juga gak akan bisa bertahan.”
Nadira mengangguk pelan. “Mungkin salah satu dari kita akan jatuh suatu hari nanti. Tapi kalau kita tetap bersama, kita pasti bisa bangkit lagi.”