Hari-hari setelah kejadian di air terjun mulai terasa berbeda bagi Arkan, Nadira, dan Raka. Dunia yang dulu terasa sempit dan penuh ketakutan kini perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih besar dan misterius. Setiap pagi mereka bangun dengan kemungkinan misi baru dari Mr. Coin, dan setiap malam mereka tidur dengan perasaan bahwa hidup mereka tidak lagi berjalan seperti manusia biasa.
Namun di antara mereka bertiga, Arkan menjadi orang yang paling cepat memahami cara kerja sistem itu.
Ia mulai menyadari bahwa coin bukan sekadar hadiah, melainkan alat untuk mengubah seseorang secara perlahan. Orang yang ceroboh akan langsung menghabiskan semuanya demi kekuatan instan. Namun orang yang sabar akan jauh lebih berkembang dalam jangka panjang.
Karena itulah, suatu sore sepulang sekolah, mereka bertiga berkumpul kembali di tempat biasa mereka di belakang gedung olahraga sekolah. Tempat itu cukup sepi karena jarang ada siswa yang datang ke sana. Hanya suara angin dan daun-daun kering yang sesekali bergerak tertiup udara sore.
Arkan duduk di atas pagar pendek sambil melihat layar ponselnya. Di sana terlihat jumlah coin miliknya yang terus bertambah selama beberapa minggu terakhir.
Raka yang penasaran langsung mendekat sambil membenarkan posisi kacamatanya.
“Berapa coin kamu sekarang?”
Arkan memperlihatkan layar ponselnya tanpa banyak bicara.
Mata Raka langsung membesar. “Dua ratus lima puluh coin putih… dan enam coin hitam?”
Nadira yang ikut melihat juga tampak terkejut. “Itu banyak banget…”
Arkan tersenyum kecil. “Aku sengaja gak langsung menghabiskan semuanya.”
“Kenapa?” tanya Nadira.
Arkan menyimpan kembali ponselnya ke saku celana sebelum menjawab dengan nada tenang, “Karena sistem ini seperti permainan strategi. Kalau kita terlalu fokus meningkatkan diri sekarang, kita bakal kehilangan kesempatan mendapatkan sesuatu yang lebih besar nanti.”
Raka mengangguk pelan. “Jadi kamu nabung coin?”
“Bukan cuma nabung,” jawab Arkan. “Aku lagi menunggu.”
“Menunggu apa?” tanya Nadira penasaran.
Arkan menatap mereka berdua cukup lama sebelum tersenyum tipis.
“Aku nunggu kalian.”
Raka dan Nadira langsung terdiam.
“Aku gak mau berdiri terlalu jauh di depan kalian,” lanjut Arkan pelan. “Kalau aku terus berkembang sendiri sementara kalian tertinggal… lama-lama kita gak bakal berjalan berdampingan lagi.”
Nadira menatap Arkan dengan mata sedikit melembut.
Sedangkan Raka hanya mendengus kecil sambil tersenyum tipis.
“Dasar…” gumamnya lirih. “Masih aja mikirin orang lain.”
Arkan menggaruk belakang kepalanya pelan. “Aku cuma gak mau kita terpisah.”
Setelah itu, Arkan mulai menjelaskan lebih detail tentang sistem coin yang ia pahami sejauh ini. Ia menjelaskan bahwa coin putih memang terlihat biasa, tetapi jika dikumpulkan dalam jumlah besar bisa ditukar menjadi coin hitam. Sedangkan coin hitam jauh lebih berharga karena mampu membuka kemampuan yang melampaui batas manusia.
“Mulai sekarang,” ucap Arkan serius, “selama seminggu kita fokus kumpulin coin dulu. Jangan buru-buru upgrade apa pun.”
“Bahkan fisik juga?” tanya Nadira.
Arkan mengangguk. “Kalau bisa tahan diri dulu. Kita lihat seberapa jauh kita bisa berkembang tanpa terlalu bergantung sama sistem.”
Raka tersenyum kecil sambil menyilangkan tangan. “Untuk pertama kalinya aku setuju sama strategi kamu.”
“Woi…” Arkan langsung melirik kesal. “Emang biasanya enggak?”
“Biasanya kamu lebih sering pakai insting daripada otak.”
Nadira langsung tertawa kecil melihat mereka berdua mulai berdebat seperti biasa.
Dan sejak hari itu, mereka mulai menjalani misi mereka masing-masing.