Malam di kota itu terasa jauh berbeda dibanding malam-malam biasanya. Langit tampak gelap tanpa bintang, sementara angin berembus dingin melewati gang-gang sempit dan gedung-gedung tinggi yang mulai sepi. Jam sudah melewati tengah malam ketika Arkan masih terjaga di kamarnya. Lampu kamar sengaja dimatikannya sejak tadi, hanya menyisakan cahaya redup dari layar ponsel yang berada di atas meja belajar.
Sejak beberapa hari terakhir, Arkan hampir tidak pernah benar-benar tidur nyenyak. Bukan karena rasa takut, melainkan karena ada sesuatu dalam dirinya yang terus menunggu. Menunggu misi baru. Menunggu tantangan baru. Menunggu kesempatan untuk menjadi lebih kuat lagi.
Tubuhnya bersandar di kursi sambil memandang keluar jendela kamar. Kota itu terlihat tenang dari kejauhan, tetapi Arkan tahu kedamaian itu perlahan mulai retak. Semakin banyak orang yang menerima pesan dari Mr. Coin. Semakin banyak orang yang mulai menyadari bahwa sistem itu nyata. Dan semakin banyak pula manusia yang mulai berubah karena kekuatan.
Tiba-tiba layar ponselnya menyala terang.
Satu pesan masuk muncul di layar.
“Misi Level Berbahaya.”
Tatapan Arkan langsung berubah tajam. Tidak ada rasa terkejut di wajahnya. Justru sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum tipis, seolah inilah yang sejak tadi ia tunggu.
Ia membuka pesan itu perlahan.
“Misi Level Berbahaya: Habisi lima belas pengguna kekuatan yang menggunakan kemampuan mereka untuk merampok dan membunuh.”
Arkan membaca pesan itu tanpa berkedip.
Lokasi target langsung muncul dalam bentuk titik merah di peta kota.
Senyum di wajahnya semakin jelas.
“Akhirnya…” gumamnya pelan.
Suara Aeris terdengar lembut di dalam kepalanya. “Tuanku terlihat senang sekali menerima misi ini.”
Arkan berdiri perlahan dari kursinya. “Aku hanya mulai sadar satu hal.”
“Apa itu, tuanku?”
“Kalau dunia ini mulai dipenuhi orang-orang berkekuatan…” ucap Arkan sambil menatap pantulan dirinya di jendela kamar, “maka akan ada lebih banyak monster dibanding manusia.”
Aeris terdiam beberapa saat sebelum akhirnya tertawa kecil. “Dan tuanku ingin menjadi pemburu monster?”
Arkan tidak langsung menjawab. Ia mengangkat tangan kanannya perlahan. Dengan bantuan telekinesis, lemari kamarnya terbuka sendiri. Sebuah jubah hitam melayang keluar, diikuti topeng setengah wajah berbentuk harimau berwarna gelap.
Semua benda itu bergerak sendiri menuju tubuh Arkan.
Jubah hitam menutupi tubuh atletisnya dengan sempurna, sementara topeng harimau itu menempel di wajahnya, memperlihatkan hanya bagian mata yang kini tampak jauh lebih tajam dibanding sebelumnya.
“Aku hanya ingin memastikan…” ujar Arkan dingin, “tidak ada lagi orang lemah yang merasakan hidup seperti yang pernah aku rasakan.”
Begitu selesai berbicara, Arkan membuka jendela kamarnya. Angin malam langsung menerpa wajahnya dengan keras. Namun tanpa ragu sedikit pun, ia melangkah naik ke bingkai jendela.
Lalu melompat.
Tubuhnya jatuh dari lantai dua rumah neneknya, tetapi sebelum menyentuh tanah, telekinesis aktif secara otomatis. Tubuh Arkan melayang ringan di udara sebelum melesat cepat ke depan.
Dari kejauhan, ia tampak seperti bayangan hitam yang meluncur di atas atap-atap rumah.
Dalam hitungan menit, Arkan sudah berdiri di puncak menara tertinggi di tengah kota. Angin malam berembus sangat kencang di tempat itu hingga jubahnya berkibar liar. Dari sana, seluruh kota terlihat jelas di bawah kakinya.
Ponselnya kembali menyala.
Lokasi target semakin dekat.
Arkan mengangkat kepalanya perlahan ketika mendengar suara sirene samar di kejauhan.
Dan benar saja.
Sebuah toko emas di pusat kota sedang kacau. Kaca depannya hancur. Orang-orang berlarian panik. Teriakan terdengar di mana-mana.
Lima belas orang bersenjata berdiri di depan toko itu.
Namun mereka bukan perampok biasa.
Salah satu dari mereka mampu mengangkat bongkahan batu besar dengan satu tangan. Yang lain membuat akar tanaman menjalar keluar dari tanah. Ada pula yang tubuhnya diselimuti api tipis.
Mereka semua adalah pengguna kekuatan.
Dan mereka menyalahgunakannya.
“Target ditemukan,” ujar Aeris tenang.
Arkan tersenyum tipis di balik topengnya.
“Kalau begitu…” katanya pelan sambil melangkah ke ujung menara, “mari kita mulai.”
Detik berikutnya, tubuh Arkan melesat turun.
Angin berdesing keras di telinganya ketika ia menukik dari atas langit malam. Para perampok di bawah bahkan tidak sempat menyadari apa yang sedang mendekat.
Sampai akhirnya—
DUAAARRR!
Arkan menghantam tubuh salah satu perampok dengan keras hingga jalanan retak. Debu beterbangan memenuhi area depan toko emas. Suara benturan itu menggema hingga membuat orang-orang menjerit ketakutan.
Para perampok langsung mundur beberapa langkah.
“Apa-apaan itu?!” teriak salah satu dari mereka.
Debu perlahan menghilang.
Dan dari tengah kepulan debu itu, muncul sosok berjubah hitam dengan topeng harimau yang berdiri tenang di atas tubuh salah satu perampok yang sudah tidak bergerak.
Beberapa perampok langsung terkejut.