Perjalanan menuju hutan sore itu terasa jauh berbeda dibandingkan hari-hari sebelumnya. Jalan setapak yang mereka lalui masih sama seperti biasanya, dipenuhi akar pohon yang mencuat dari tanah dan dedaunan kering yang berderak setiap kali terinjak. Hutan itu bukan tempat asing bagi Arkan, Nadira, dan Raka. Sejak kecil mereka sering datang ke sana ketika dunia terasa terlalu kejam untuk mereka hadapi. Saat teman-teman lain menikmati masa kecil yang normal, mereka justru menemukan tempat pelarian di tengah rimbunnya pepohonan. Di sana mereka pernah menangis bersama, tertawa bersama, dan berjanji bahwa apa pun yang terjadi mereka tidak akan meninggalkan satu sama lain.
Namun hari itu suasananya terasa berbeda. Tidak ada candaan Raka yang biasanya mampu memecah kesunyian. Tidak ada tawa kecil Nadira yang selalu mengikuti lelucon sahabatnya itu. Bahkan Arkan yang biasanya berusaha menjaga suasana tetap hangat hanya berjalan di depan sambil menatap lurus ke arah jalan setapak. Keheningan yang menyelimuti mereka bertiga terasa begitu pekat hingga suara angin yang berembus di antara dedaunan terdengar jauh lebih jelas daripada biasanya.
Nadira beberapa kali ingin membuka percakapan, tetapi setiap kali melihat punggung Arkan, niat itu kembali ia urungkan. Ada sesuatu yang berbeda dari sahabatnya tersebut. Bukan hanya perubahan fisik yang membuat Arkan terlihat jauh lebih tinggi, lebih kuat, dan lebih percaya diri, melainkan sesuatu yang lebih dalam dari itu. Tatapan Arkan kini menyimpan beban yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Seolah ada rahasia besar yang sedang ia pendam seorang diri.
Di belakang mereka, Raka berjalan sambil sesekali melirik Arkan. Sebagai orang yang paling peka terhadap perubahan pola pikir sahabatnya, ia dapat merasakan bahwa Arkan sedang memikirkan sesuatu yang serius. Bahkan dirinya yang biasanya tidak pernah bisa diam kini memilih menahan semua candaan yang sudah berkumpul di ujung lidahnya. Instingnya mengatakan bahwa apa pun yang akan dibicarakan Arkan nanti bukanlah sesuatu yang bisa dianggap ringan.
Untuk mengalihkan rasa gugupnya, Nadira mengeluarkan ponsel dan membuka sistem milik Mr. Coin. Angka yang terpampang di layar membuatnya sedikit terkejut karena tanpa sadar ia telah mengumpulkan lima ratus coin putih dan lima coin emas selama beberapa minggu terakhir. Di sisi lain, Raka yang juga sedang memeriksa sistemnya menemukan bahwa dirinya memiliki lima ratus sepuluh coin putih dan tiga coin emas. Jumlah itu mungkin terdengar mustahil jika dibandingkan dengan kehidupan mereka beberapa bulan lalu, tetapi sekarang semuanya terasa nyata.
Mereka terus berjalan hingga akhirnya tiba di pondok kayu tua yang selama ini menjadi markas rahasia mereka. Bangunan sederhana itu berdiri di antara pepohonan besar yang menjulang tinggi, seolah menyembunyikannya dari dunia luar. Banyak kenangan tersimpan di tempat tersebut, mulai dari hari-hari ketika mereka bersembunyi dari para pembully hingga malam-malam panjang ketika mereka saling menguatkan agar tidak menyerah pada kehidupan.
Arkan berhenti tepat di depan pondok lalu membalikkan tubuhnya. Tatapannya bergantian mengarah kepada Nadira dan Raka sebelum akhirnya ia menarik napas panjang. "Apa kalian sudah siap untuk perubahan kalian?" tanyanya.
Nada suara Arkan membuat Nadira dan Raka saling berpandangan. Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi ada sesuatu yang tersembunyi di baliknya. Bukan antusiasme, melainkan keraguan yang samar-samar terasa.
"Kami siap," jawab Nadira perlahan. "Tapi kenapa kamu terdengar seperti sedang mengkhawatirkan sesuatu?"
Arkan terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk pelan. "Karena setelah ini akan ada dua jalan yang terbuka untuk kalian. Aku tidak bisa memilihkan jalan itu, tetapi setidaknya aku ingin memastikan kalian memahami konsekuensinya."
Raka menyilangkan tangan di dada. "Maksudmu?"
"Kekuatan bisa mengubah hidup seseorang," jawab Arkan. "Kalian bisa menggunakan kekuatan itu untuk membantu orang lain dan melindungi mereka yang lemah. Tapi kalian juga bisa menggunakannya untuk melampiaskan semua rasa sakit yang pernah kalian rasakan. Kalian bisa menjadikannya alat balas dendam. Dan jika itu terjadi terlalu lama, suatu hari kalian mungkin tidak lagi mengenali diri kalian sendiri."