“Jenni…” teriakku memanggil Jenni sambil melambaikan tangan.
“Awww… Rainbow, kau sudah sampai. Kau mau ikut bus atau pakai mobilmu?” tanya Jenni padaku.
“Emmm… aku pakai mobil saja.
Barang-barangku juga lumayan banyak, dan aku juga membawa dua temanku. Tidak apa-apa, bukan?” jawabku pada Jenni.
Yahhh, aku membawa Low dan Lin juga ikut bersamaku, karena mereka juga diutus oleh dosen untuk ke desa. Jadi ada beberapa jurusan yang diutus bersamaan untuk pergi ke desa, namun dengan tujuan yang berbeda.
“Jenni, ayo bus sudah mau berangkat,” panggil salah satu teman Jenni agar ia cepat masuk ke dalam bus.
“Iya… iya… Rainbow, aku ke sana dulu,” kata Jenni sambil berjalan menuju bus.
Saat aku hendak masuk ke dalam mobil, tiba-tiba aku melihat para pangeran kampus menghampiriku.
“Emm… apa kau masih bisa ditumpangi satu penumpang?” tanya salah satu dari mereka yang sudah kutahu siapa dia, yaitu Phi Charlie.
“Emmm… bi-bisa. Siapa ya…?” jawabku berpura-pura tidak mengenalinya, agar Phi Charlie memperkenalkan mereka.
“Kau tidak mengenali kami?” jawab Phi New dengan sok asik.
“Oke… oke. Aku Charlie, ini New,” katanya sambil menunjuk New, “dan yang ini pria tertampan kita, Flip. Kami dari jurusan bisnis.”
“Ooooo… oke, oke. Masih ada satu tempat,” jawabku kepada mereka.
“Flip, masuklah,” suruh Charlie sambil mendorong Flip hingga masuk ke dalam mobilku dan duduk di bagian depan.
“Ohoyyyy, ini mau jalan atau tidak? Rombongan lain sudah jalan, Rainbow. Bahkan pacarku sudah jalan duluan. Tahu begitu aku naik bus,” kata Lin.