COKLAT

Dzzy
Chapter #26

Apa kamu serius?

Sejak hari itu, aku dan Phi Flip resmi bersama.

Setiap hari kita habiskan bersama, selalu bergandeng tangan, makan bersama, juga Phi Flip seperti seseorang yang berbeda, sungguh-sungguh berbeda, karena dirinya selalu tersenyum, bahkan setiap hal yang aku lakukan selalu membuat bibirnya mengukir senyuman tipis tetapi tulus.

Namun aku lupa satu hal.

Kebahagiaan yang terlalu tenang biasanya tak bertahan lama.

Hari itu aku datang lebih awal ke kampus. Aku berniat menunggu Phi Flip di depan kelasnya seperti biasa, membawa minuman kesukaannya. Tapi langkahku terhenti, seluruh hatiku terasa terbakar saat melihat seseorang berdiri di sana lebih dulu.

Phi Flow.

“Apa yang dia lakukan menemui Phi Flip seperti itu?” gumamku sambil berjalan pelan ke depan, karena niat awalku adalah memberitahunya bahwa Phi Flip sudah jadi milikku agar wanita itu tak datang ke kehidupan orang yang aku cintai lagi.

Degg…… langkahku terhenti untuk yang kedua kalinya, ‘Phi Flip memegang rambut Phi Flow? Huh…’ gumamku dalam hati sambil memperkuat genggaman tanganku yang sedang memegang botol minum di tangan kananku. Raut wajahku seketika berubah, alisku mengerut dan wajahku bahkan memerah. Aku sungguh-sungguh membeku, tak bisa melanjutkan langkah kakiku, serasa hembusan angin di siang itu membekukan seluruh tubuhku.

Saat mata Phi Flow tak sengaja bertemu dengan mataku, dia sengaja—dia sengaja memeluk Phi Flip dan tersenyum licik kepadaku, seolah-olah mata dan senyumannya mengatakan, ‘Aku menang, pria ini milikku.’

Karena hatiku terasa sangat sesak dan aku bahkan tidak sanggup menerima kenyataan akan apa yang aku lihat, aku memutuskan untuk pergi. Aku berlari menuju tempat yang sepi. Kakiku yang sudah tak kuasa menopang seluruh berat badanku akhirnya jatuh. Aku jongkok dengan kedua lenganku di atas lutut untuk menutupi wajah sembabku, karena air mata yang tak kunjung berhenti.

Dirasa sudah lega, aku akhirnya berjalan ke luar untuk menunggu Pak Sir menjemputku. Aku mengabaikan telepon dan pesan dari Phi Flip yang pasti karena menungguku untuk pulang bersama. Tetapi, karena kondisiku saat ini yang mudah menangis, bahkan melihat namanya di ponselku saja sudah membuatku memikirkan kejadian tadi dan merintikkan air mata.

Lihat selengkapnya