POV Rainbow
Ketika berjalan, aku sadar bahwa Phi Flip berlari ke arahku. Tetapi, aku sungguh tak sanggup untuk meminta penjelasan darinya saat ini. Hatiku sungguh berat, seakan ada bebatuan yang memenuhi hatiku.
"Pak Sir, antar aku ke pantai yang sering aku kunjungi bersama Mama… aku tak ingin pulang hari ini," pintaku pada Pak Sir, karena aku tahu Phi Flip akan mencariku ke rumah, dan aku tak mau menemuinya saat ini karena emosiku sedang tak stabil dan aku tak mau melakukan sesuatu hal yang akan kusesali ketika bertemu dengannya.
POV Flip
Ini kali pertamaku melihat Rainbow pergi dengan wajah seperti itu, wajah sedih, bingung, marah. Sebenarnya, apa yang dikatakan perempuan jalang itu kepada Rainbow?
Saat melihat mobilnya melaju menjauh dariku, aku segera menuju mobilku dan menancap gas menuju rumahnya, berharap dirinya ada di sana dan bisa berbicara denganku tentang apa yang terjadi.
"Non Rainbow belum pulang dari tadi, Nak Flip. Pak Sir juga saya telepon tidak diangkat," ucap Bibi Run yang sama bingungnya sepertiku, yang ingin tahu di mana dia berada sekarang.
Aku meneleponnya berkali-kali, tapi tak ada satu pun panggilanku yang dia angkat. Aku sungguh khawatir, sampai-sampai hatiku dan pikiranku mau pecah rasanya memikirkan dirinya. Di mana kamu, Rainbow? Jangan pergi, kumohon, gumamku dalam hati mengkhawatirkannya.
"Bi, ada tempat favorit atau tempat yang sering Rainbow kunjungi tidak?" tanyaku pada Bibi Run, berharap ada satu tempat yang bisa aku tuju untuk melihat wajahnya dan menjelaskan kesalahpahaman di antara kita serta menjelaskan tentang Flow kepadanya.
"Oh iya, Bibi baru ingat, Nak. Pantai… Non Rainbow sering liburan ke pantai bersama Nyonya." Tak lama setelah mendengarkan informasi dari Bibi Run, aku langsung menancap gas menuju pantai yang disebutkan tadi.
Sepanjang perjalanan, pikiranku hanya satu. Omong kosong apa yang dikatakan Flow padanya? Jangan sampai dia benar-benar percaya pada Flow.
Sebenarnya, setelah kelas, Flow yang datang menemuiku lebih dulu. Dia berdiri di depan kelas, menungguku.
“Flip, kita harus bicara,” katanya.
Aku sudah tahu arah pembicaraan itu. Flow masih menyukaiku. Itu terlihat jelas dari caranya menatapku. Aku tak suka padanya lagi, bukan, lebih tepatnya aku tak pernah menyukainya.
Kata-katanya yang mengatakan bahwa dirinya lebih baik dari Rainbow dari segi apa pun membuat emosiku memuncak. Tapi aku bukan tipikal orang yang menyukai kekerasan. Aku hanya ingin dia sadar dan tak mengejarku lagi.
Aku memegang helaian rambutnya sambil tersenyum lirih. Aku mengatakan, “Flow, dengarkan aku baik-baik. Kau tidak pantas untukku lagi. Dan kau juga tidak sebaik Rainbow. Dengan kau melakukan ini, secara tak langsung kau merendahkan dirimu sendiri, jadi cukup.”
Aku tahu kata-kataku kasar. Tapi aku ingin dia berhenti berharap. Wajahnya langsung berubah. Akan tetapi, belum sempat aku melangkah pergi, dia memelukku. Sia… apa lagi ini? gumamku dalam hati, dan kali ini rasa emosiku sudah tak bisa aku bendung lagi.
Aku kaget. Aku langsung melepaskan pelukannya.
“Jangan lakukan ini lagi. Jangan pernah mendekatiku seperti ini lagi,” kataku tegas. Sebelum aku melangkah meninggalkannya, “Satu informasi, aku tak pernah menyukaimu dan menganggapmu lebih dari teman.” Tepat setelah mengatakan itu, aku benar-benar pergi dan berharap dirinya sungguh-sungguh tak muncul lagi di kehidupanku.
Sekarang aku berdiri di tepi pantai. Angin sore terasa dingin, semakin membuat tubuhku panik. Dalam hati aku hanya berdoa, semoga Tuhan mempertemukan kami di sini.