Saat malam hari…
“Nak, datanglah ke rumah sekarang,” telepon ayah Phi Flip agar ia pulang malam ini juga.
“Berhasil, berhasil…,” kata Jenni sambil mengacungkan dua jempol ke arah ayahnya. Kami semua, aku, Lin, Low, Phi New, Phi Charlie, dan Chat ikut mengacungkan dua jempol secara bersamaan pada Lin.
Tak lama kemudian, Phi Flip sampai di rumah. Ia terlihat sangat heran melihat kami semua sudah berkumpul di sana dan sedang memasak bersama di pinggir kolam. Phi Charlie dan Low memanggang daging, Chat dan Lin menyiapkan meja makan, sementara Phi New duduk santai di kursi dekat kolam sambil memainkan gitarnya. Aku dan Lin sebelumnya berada di dalam rumah untuk menyiapkan kue ulang tahun yang spesial untuk Phi Flip.
“Nak, kamu sudah datang,” ucap Ibu Phi Flip sambil menarik tangannya untuk duduk di kursi yang sudah disiapkan.
“Emm… ini ada apa, Bu? Kenapa sangat ramai di sini? Dan kau, Charlie… oyyy New, untuk apa kau di sini?” tanya Phi Flip heran dengan wajah kebingungan. Sambil menoleh kanan dan kiri kebingungan,
"Apakah Rainbow juga di sini?"
“Ohoyyyy, sobat! Tenang saja, kita akan bersenang-senang bersama, uhuuuu…!” jawab Phi New dengan penuh semangat.
Tak lama kemudian, aku dan Lin keluar sambil membawa kue ulang tahun dengan lilin yang menyala di atasnya.
“Happy birthday to you… happy birthday to you… happy birthday… happy birthday… happy birthday to you….”
Kami bernyanyi bersama sambil bertepuk tangan, diiringi petikan gitar dari Phi New. Setelah kue berada tepat di depan Phi Flip, aku berkata dengan semangat,
“Ayo, ucapkan harapan, lalu tiup lilinnya!”
Ucapanku membuat semua orang tertawa kecil. Phi Flip pun yang awalnya kebingungan sontak langsung tersenyum tipis melihat diriku yang sangat excited,
Phi Flip lalu memejamkan mata sejenak, mengucapkan harapannya, dan meniup lilin tersebut Sambil menatapku.
Malam itu terasa sangat hangat. Kami bernyanyi bersama, makan bersama, dan tertawa tanpa henti. Bahkan, Phi Flip sempat menyuapiku daging, yang membuatku tersenyum malu.
Di sudut lain, Jenni dan Phi New terlihat semakin dekat.
“Phi, bisa bantu aku mencuci buah ini?” tanya Jenni.
“Oh… iya, tentu,” jawab Phi New sambil langsung mencuci buah tersebut.
Saat ia menyodorkan buah yang sudah dibersihkan, tanpa sengaja tangan mereka bersentuhan. Keduanya langsung saling menatap dan tersenyum tipis.