Collateral Romance

Azerhays
Chapter #2

BAB 2: Persimpangan Maut

"Nama lo... Shania?" tanya Deva memecah keheningan setelah mobil mereka berjalan sekitar lima menit menjauhi kawasan Blok M. Dia mencoba menurunkan tensi ketegangan di dalam kabin mobil.

Wanita di sampingnya itu masih mengatur napasnya yang putus-putus. Dia memeluk tubuhnya sendiri yang gemetaran. "Iya. Shania. Lo... driver asli kan? Maksud gue, lo bukan bagian dari... mereka, kan?" Shania menatap Deva penuh curiga, matanya yang indah tampak berkaca-kaca menahan tangis.

Deva terkekeh kecil, mencoba berakting senatural mungkin. "Ya aslilahl, Mbak. Kalau gue bagian dari 'mereka' yang Mbak maksud, ngapain gue narik taksol jam segini. Mending gue tidur di rumah. Lo habis jatuh dari motor atau gimana? Baju lo kotor banget."

Shania tidak menjawab. Dia memalingkan wajahnya ke arah jendela luar, menatap gedung-gedung tinggi Jakarta yang tampak seperti raksasa hitam di bawah langit malam. "Jangan banyak tanya, Mas. Jalan aja yang cepat. Gue bakal bayar lo tiga kali lipat dari tarif aplikasi. Please, selamatin gue malam ini aja."

Deva terdiam. Dia tahu kapan harus mendesak dan kapan harus mengerem. Namun, naluri detektifnya berteriak bahwa Shania bukan perempuan sembarangan. Struktur wajahnya, cara dia memeluk tas kecil yang untungnya masih dia bawa, dan jam tangan mewah berpasir berlian yang melingkar di pergelangan tangan kirinya yang kotor menunjukkan kalau dia berasal dari kelas sosial atas. Siapa orang tua Shania? Mengapa perempuan borjuis seperti dia bisa terlunta-lunta di gang gelap Blok M dengan baju compang-camping?

Mobil mereka kini melaju di jalur arteri menuju arah Senayan. Jalanan benar-benar lengang. Hingga akhirnya mereka tiba di sebuah persimpangan lampu merah yang besar. Sial bagi Deva, lampu baru saja berganti warna menjadi merah menyala. Deva perlahan menginjak rem dan menghentikan mobilnya di baris paling depan.

Shania langsung menengok ke arah Deva dengan wajah histeris. "Kenapa berhenti?! Terobos aja!"

"Eh, Mbak, ini lampu merah. Bahaya kalau maen terobos, jalanan emang sepi tapi sekarang kamera e-TLE ada di mana-mana, lagian..."

"Gue bilang terobos ya terobos! Lo budeg ya?!" bentak Shania, air matanya akhirnya luruh. "Mereka ada di belakang kita! Lo gak paham!"

Lihat selengkapnya