Dua hari setelah mendapatkan nama Konsorsium Dharma Nusa, Deva mengambil keputusan nekat. Kondisi fisiknya sudah pulih sekitar sembilan puluh persen. Luka di pelipisnya sudah mengering, menyisakan bekas segaris tipis yang justru membuat wajahnya terlihat lebih matang dan berbahaya.
Dia tidak bisa langsung menyerbu Menara Dharma Nusa di Kuningan; itu sama saja dengan bunuh diri. Tempat itu dijaga oleh mantan anggota militer dan memiliki sistem keamanan tingkat tinggi. Dia harus memancing mereka keluar. Dia harus menggunakan dirinya sendiri sebagai umpan.
Pagi-pagi sekali, Deva mendatangi sebuah bengkel rumahan di daerah Sawangan, Depok milik temannya untuk mengambil mobil MPV hitam lain yang sudah dia sewa dengan nama samaran baru. Mobil ini sudah dimodifikasi tipis: kaca filmnya dibuat sangat gelap dari luar namun jernih dari dalam, dan di bawah jok depannya sudah terpasang kembali perekat velcro dengan Glock-17 yang terisi penuh peluru 9mm.
Deva duduk di kursi pengemudi, menarik napas dalam-dalam, lalu membuka aplikasi taksi online-nya yang sempat dibekukan namun berhasil diaktifkan kembali menggunakan bantuan peretasan Eza.
"Akun aktif," gumam Deva.
Dia mulai menjalankan mobilnya membelah jalanan Jakarta, berpura-pura mengambil beberapa penumpang biasa di sekitar Jakarta Selatan untuk memancing sistem algoritma dan yang paling penting untuk memancing mata-mata konsorsium yang pasti masih memantau jaringan taksi online tersebut setelah insiden Melawai.
Jam menunjukkan pukul 20.00 WIB ketika Deva memutuskan untuk mengarahkan mobilnya ke sekitar kawasan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan sengaja berputar-putar di dekat Menara Dharma Nusa. Hujan rintik-rintik mulai turun, membuat jalanan ibu kota berkilau oleh pantulan lampu kota.
Ting.