Malam semakin larut, dan rintik hujan yang membasahi kaca depan mobil MPV hitam yang dikemudikan Deva berubah menjadi untaian air yang menderu deras. Wiper mobil berayun dengan ritme monoton, swish... swish... swish... seolah menghitung mundur sisa waktu ketenangan di dalam kabin yang pengap itu.
Deva menatap lurus ke aspal jalanan Gatot Subroto yang tampak hitam berkilau memantulkan cahaya lampu kota. Namun, fokus utamanya bukan pada jalanan di depan. Melalui sudut matanya dan pantulan spion tengah yang posisinya sudah dia sesuaikan secara presisi, Deva terus mengunci pergerakan pria misterius bernama Rian yang duduk di kursi belakang.
Pria itu masih mematung. Topi pet hitamnya ditarik agak rendah, menyembunyikan sebagian wajahnya dalam kegelapan. Tangan kanannya masih tertanam di balik jaket kulit, membentuk tonjolan kaku di dekat area pinggangnya. Deva tahu persis tonjolan itu. Itu adalah siluet dari sebuah pistol semi-otomatis, kemungkinan besar jenis Makarov atau browning kaliber kecil yang biasa digunakan oleh para eksekutor bayaran agar mudah disembunyikan.
"Mbak Shania di mana?"
Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Deva. Suaranya sangat tenang, datar, dan menggunakan intonasi casual, sama sekali tidak mencerminkan seorang supir taksi online yang ketakutan. Dia sengaja tidak lagi berpura-pura menjadi supir lugu. Permainan topeng ini sudah selesai sejak mobil melintasi lampu merah Kuningan.
Pria di kursi belakang tersentak kecil. Gerakan bahunya menegang. Dia mendongak, menatap tajam mata Deva melalui spion tengah. "Lo ngomong apa, Mas? Jalan aja sesuai aplikasi. Gak usah sok kenal nanya-nanya hal yang gak jelas."
Deva terkekeh. Suara tewanya terdengar dingin, bergema di antara deru mesin mobil dan suara hujan. "Gak usah akting, Rian. Atau siapa pun nama asli lo. Lo dipasang di lobi belakang Menara Dharma Nusa buat mancing akun taksi online gue yang baru aktif, kan? Konsorsium lo panik karena gue ternyata masih hidup setelah tabrakan di Melawai."