Collateral Romance

Azerhays
Chapter #10

BAB 10: Sejarah Berdarah Dua Keluarga

Pria itu ternyata memiliki kemampuan bertarung yang sangat baik, tipikal personel militer yang terlatih dalam pertempuran jarak dekat (Close Quarters Combat). Dengan berat tubuhnya yang lebih besar, dia berhasil menarik Deva ke area kabin tengah. Pukulan mentah mendarat keras di rahang kiri Deva, membuat Deva terdorong hingga kepalanya membentur pintu mobil bagian dalam.

"Uhuk!" Deva meringis, rasa asin darah langsung terasa di dalam mulutnya. Bekas luka di pelipisnya seolah berdenyut kembali.

Namun, pelatihan tiga tahun di kamp rahasia luar negeri tidak membuat Deva panik. Dalam posisi setengah telentang di kursi tengah, Deva mengangkat kedua kakinya, menempatkan telapak kaki kanannya tepat di dada pria itu, lalu melakukan teknik tomoenage versi modifikasi, mendorong tubuh pria itu dengan kekuatan kaki hingga punggung pria itu menghantam pintu mobil sebelah kiri sampai engselnya berderit keras.

BRUAAAK!

Pria itu terbatuk, pasokan oksigen di parunya seolah menghilang sesaat. Deva langsung bangkit, mengunci leher pria itu dari belakang dengan lengan kanannya menggunakan teknik rear-naked choke. Tangan kiri Deva menekan bagian belakang kepala pria itu ke bawah, memaksa aliran darah ke otaknya terhenti.

"Gue tanya sekali lagi," bisik Deva tepat di telinga pria yang mulai megap-megap itu. Napas Deva memburu, peluh bercampur tetesan air hujan yang masuk dari celah jendela membasahi wajahnya. "Di mana Konsorsium Dharma Nusa nyembunyiin Shania Adiratna? Jawab, bangsat!"

Pria itu mencoba memberontak, menyikut rusuk Deva beberapa kali dengan sisa kekuatannya, namun kuncian Deva bagaikan lingkaran besi yang mustahil dilepaskan. Wajah pria itu mulai membiru karena kehabisan napas.

"Gue... gak... tahu... tempat pastinya..." bisik pria itu parau, tangannya menepuk-nepuk lengan Deva sebagai tanda menyerah (tap out).

Deva sedikit melonggarkan kuncian lehernya, memberikan ruang kecil bagi pria itu untuk menghirup udara, namun ujung moncong Glock-17 milik Deva kini sudah menempel erat di bawah dagu pria tersebut. "Jangan main-main sama gue. Lo mau mati di gudang kosong ini dan jasad lo baru ketemu seminggu lagi pas udah bau?"

Lihat selengkapnya