Collateral Romance

Azerhays
Chapter #11

BAB 11: Sosok di Balik Jendela Kaca

Kabut tebal khas kawasan Puncak bergulung rendah memeluk area sekitar Vila Bukit Pelangi. Jarum jam di pergelangan tangan Deva menunjukkan pukul 02.45 dini hari. Udara dingin yang menusuk tulang terasa kontras dengan gejolak amarah yang membakar dada Deva sejak meninggalkan gudang tua di Jakarta beberapa jam lalu.

Dia memarkirkan motor sport hitamnya sekitar satu kilometer dari lokasi, tersembunyi di balik rimbunnya pohon pinus. Menggunakan setelan taktis hitam-hitam lengkap dengan rompi antipeluru tersembunyi di balik jaketnya, Deva bergerak mendekati kompleks vila milik keluarga Baghir tersebut.

Dari balik teropong monokular malam (night-vision), Deva memindai situasi. Vila itu berdiri megah di atas bukit, dikelilingi pagar besi setinggi tiga meter yang ujungnya dipasangi kawat berduri.

"Za, lo bisa denger suara gue?" bisik Deva pada mikrofon kecil yang menempel di kerah jaketnya, terhubung ke interkom rahasia.

"Denger, Bang," suara Eza terdengar dari seberang sana, diiringi bunyi ketukan kibor yang cepat. "Gue udah berhasil nge- bypass jaringan pemancar seluler di sekitar bukit itu. Kamera pengawas di sisi barat pager aman, jaringannya udah gue buat looping video lima menit lalu. Lo punya waktu dua puluh menit sebelum sistemnya mendeteksi ada keganjilan."

"Cukup. Tetap pantau jalur keluar," balas Deva dingin.

Dengan gerakan seringan mungkin, Deva berlari melintasi area terbuka, lalu memanjat pagar besi di sisi barat yang luput dari pengawasan. Begitu kakinya menyentuh rumput basah halaman dalam vila, dia langsung merayap di bawah bayang-bayang tanaman hias. Matanya dengan jeli menghitung jumlah penjaga.

Ada sekitar enam orang pria berbadan tegap dengan seragam safari hitam berlalu-lalang di sekitar halaman depan sambil memegang senter dan senjata laras pendek di pinggang mereka. Tipe penjagaan khas untuk menyembunyikan sesuatu yang bernilai tinggi.

Deva bergerak memutari bangunan utama, menuju bagian belakang yang berbatasan langsung dengan tebing. Instingnya menuntunnya menatap ke arah lantai dua vila. Di sana, ada sebuah jendela kaca besar yang sedikit terbuka. Lampu di dalam ruangan itu menyala temaram.

Lihat selengkapnya