DOR! DOR!
Suara tembakan menggema memecah kesunyian malam di dalam vila. Deva dengan sigap merangkul pinggang Shania, menarik tubuh wanita itu untuk tiarap di balik ranjang kayu jati yang tebal sebagai tempat berlindung. Peluru-peluru musuh menghantam kasur dan dinding di atas kepala mereka, membuat debu kapas dan serpihan semen beterbangan.
"Tetap di belakang gue, Shania!" seru Deva di tengah bisingnya suara tembakan.
Deva menarik Glock-17 miliknya. Dari posisi tiarap, dia berguling ke samping dan melepaskan tiga tembakan balasan secara taktis dan presisi.
DOR! DOR! DOR!
Dua tembakan telak mengenai dada penjaga pertama, membuatnya terkapar seketika. Penjaga kedua yang panik mencoba mundur ke koridor luar sambil berteriak histeris melalui walkie-talkie-nya, "Penyusup di lantai dua! Semua unit ke lantai dua sekarang! Dia bawa senjata!"
"Sial, rencana senyap kita gagal," umpat Deva. Dia menoleh ke arah Shania yang matanya dipenuhi ketakutan namun mencoba tetap kuat. Deva meraih tangan Shania, menggenggam jemari wanita itu dengan sangat erat. Sentuhan tangan Deva yang hangat dan kokoh memberikan suntikan keberanian instan ke dalam nadi Shania.
"Lo bisa lari?" tanya Deva, menatap Shania lekat-lekat.
Shania mengangguk cepat, mencengkeram balik tangan Deva. "Gue bakal ikut ke mana aja lo pergi, Dev. Jangan lepasin tangan gue."