Cahaya temaram dari layar laptop khusus berstandar militer milik Deva menerangi ruang tamu safehouse. Di atas meja kayu, flashdisk merah yang dibawa Shania dari Singapura telah terpasang. Namun, sebuah kotak dialog besar di layar monitor berkedip dengan warna merah yang mengintimidasi: “ENTER DECRYPTION KEY – TWO-PHASE VERIFICATION.”
Deva mengetuk-ngetuk jarinya di meja, dahinya berkerut dalam. "Gue udah coba pakai kombinasi tanggal lahir bokap lo, tanggal kematian nyokap lo, sampai nomor registrasi perusahaan cangkang di Singapura. Semuanya error. Kalau salah sekali lagi, sistemnya bakal nge-wipe seluruh data di dalam ini otomatis, Sha. Kita gak boleh gegabah."
Shania duduk di samping Deva, kedua kakinya ditekuk di atas sofa sambil memeluk lututnya sendiri. Wajahnya yang mulai bersih dari noda tanah tampak merenung dalam. "Bokap gue sempat bilang sebelum dia meninggal... kuncinya ada pada sesuatu yang 'selalu tersimpan tapi tak pernah tersampaikan'. Dia bilang gue pasti ingat kalau gue pulang ke Jakarta."
"Sesuatu yang tersimpan tapi tak pernah tersampaikan?" gumam Deva. Dia bersandar pada kursi, mencoba menyisir kembali lembaran-lembaran memorinya. "Sha, coba lo ingat-ingat lagi. Hubungan nyokap lo sama nyokap gue dua puluh tahun lalu. Apa ada barang atau momen spesifik yang melibatkan mereka berdua sebelum tragedi di Jagorawi?"
Shania memejamkan matanya, menggali kembali memori masa kecilnya yang samar. Tiba-tiba, matanya terbuka lebar. Dia menatap Deva dengan pandangan terkejut.
"Dev... kotak musik perak. Waktu gue masih kecil banget, sekitar umur delapan tahun, nyokap gue pernah bawa gue berkunjung ke sebuah rumah besar yang banyak pohon mangganya di halaman depan. Di sana ada seorang wanita cantik yang baik banget, manggil gue 'Nia kecil'. Wanita itu ngasih gue kotak musik perak yang di dalamnya ada ukiran nama: Alya & Ratih – Griya Kirana. Rumah itu... rumah lo kan?"