Pikap tua yang dikemudikan Deva membelah kabut fajar yang perlahan menyelimuti perbatasan Bogor dan Cianjur. Setelah berhasil mengecoh tim taktis konsorsium di kompleks perumahan, Deva sengaja tidak mengambil jalur tol menuju Jakarta. Mengarah ke ibu kota dalam situasi panas seperti ini sama saja dengan masuk ke dalam jaring laba-laba yang sudah dipersiapkan oleh ayahnya.
"Kita mau ke mana, Dev?" tanya Shania, suaranya parau menahan kantuk. Kepalanya bersandar pada kaca jendela pikap yang bergetar.
"Bandung," jawab Deva singkat tanpa mengalihkan pandangan dari aspal berliku di depannya. Tangan kirinya dengan lihai memindahkan gigi persneling mobil tua itu. "Berkas digital yang kita buka tadi malam emang lengkap soal transaksi keuangan. Tapi ada satu hal yang janggal. Folder utama yang isinya rekaman konversasi asli antara bokap lo dan bokap gue dua puluh tahun lalu dikunci pakai enkripsi fisik khusus. Petunjuknya mengarah ke sebuah brankas tua di rumah masa kecil nyokap lo di daerah Cipaganti."
Shania menegakkan duduknya, matanya berkedip tidak percaya. "Rumah Cipaganti? Rumah itu udah kosong sejak nyokap meninggal, Dev. Setahu gue, aset itu udah disita atau sengaja dibiarkan mati sama konsorsium."
"Justru karena dibiarkan mati, tempat itu jadi tempat penyimpanan paling aman yang dipikirkan bokap lo," sahut Deva santai. Dia melirik Shania, menyadari lingkaran hitam di bawah mata wanita itu. "Lo tidur aja dulu. Perjalanan lewat jalur alternatif subuh gini masih sekitar tiga jam lagi. Gue yang pegang kendali."
Shania menatap profil samping wajah Deva. Ada rasa aman yang aneh yang merayap di dadanya setiap kali melihat ketenangan pria di sampingnya ini. Tanpa sadar, Shania menggeser posisi duduknya sedikit merapat ke arah Deva, lalu memejamkan matanya, membiarkan dirinya terlelap diiringi deru mesin pikap tua yang berisik.