Pagi hari di kawasan Cipaganti selalu menyisakan sisa hawa dingin yang menenangkan. Namun, bagi Deva dan Shania, ketenangan itu hanyalah fatamorgana. Rumah masa kecil mendiang ibu Shania berdiri kokoh dengan arsitektur kolonial Belanda yang terbengkalai. Lumut tumbuh di dinding batu, dan akar gantung beringin menjalar di teras depan.
Menggunakan kunci fisik yang berhasil mereka dapat dari kontak di Braga semalam, Deva membuka pintu jati utama yang berderit nyaring.
"Di mana brankasnya, Sha?" bisik Deva, Glock-17 sudah siap di tangan kanannya.
"Kata bokap, di balik perapian ruang kerja bawah tanah," jawab Shania dengan suara bergetar. Dia melangkah cepat di belakang Deva, melewati tumpukan furnitur tua yang ditutup kain putih berdebu.