Collateral Romance

Azerhays
Chapter #23

EPILOG: Part 1 - Salju, Sinyal, dan Janji Suci

Musim dingin di Otaru, Hokkaido, selalu punya cara sendiri untuk membekukan waktu. Di luar jendela kedai kopi kecil yang kini dikelola Deva dengan nama samaran baru, salju turun begitu lebat, membungkus jalanan batu dengan lapisan putih setebal dua puluh sentimeter. Di dalam kedai, wangi biji kopi yang digiling berpadu hangat dengan aroma kayu manis.

Deva, yang kini mengenakan apron linen cokelat di atas kaos hitam lengan panjangnya, sedang mengelap meja konter. Rahangnya yang tegas tampak lebih santai dibanding dua bulan lalu saat dia masih dikejar peluru di Jakarta. Namun, mata elangnya tetap tidak bisa menipu. Setiap kali bel pintu kedai berbunyi, bola matanya secara refleks akan bergerak memindai postur, cara berjalan, hingga posisi tangan si pendatang selama dua detik, sebelum akhirnya kembali tersenyum ramah. Insting seorang agen Vanguard tidak akan pernah benar-benar mati.

"Dev, coba deh cicipin ini. Manisnya pas gak?"

Suara lembut itu memecah fokus Deva. Shania melangkah keluar dari dapur kecil kedai sambil membawa sepiring kecil pancake stroberi dengan taburan gula halus. Dia mengenakan sweter rajut putih longgar, rambut panjangnya dicepol asal-asalan ke atas, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajah cantiknya. Lebam di bibirnya sudah hilang total, digantikan oleh rona merah alami akibat suhu dingin Jepang.

Deva menaruh kain lapnya, lalu mencondongkan tubuh ke depan, menerima suapan dari tangan Shania. Dia mengunyahnya pelan sambil pura-pura berpikir keras.

"Gimana? Enak?" tanya Shania penasaran, matanya berbinar penuh harap.

"Kurang," jawab Deva lempeng.

Wajah Shania langsung cemberut, persis seperti anak kecil berumur delapan tahun yang diingat Deva. "Masa sih? Padahal takarannya udah gue samain kayak resep..."

Sebelum Shania menyelesaikan kalimatnya, Deva sudah memajukan wajahnya lebih dekat dan mengecup kilat sudut bibir Shania yang masih menyisakan sedikit krim putih.

Lihat selengkapnya