Tiga bulan setelah pernikahan mereka, musim dingin perlahan berganti menjadi musim semi di Otaru. Es di sepanjang kanal mulai mencair, menggantinya dengan kuncup bunga sakura yang mulai menyembul di dahan-dahan pohon. Kehidupan pernikahan Deva dan Shania berjalan dengan sangat manis dan penuh kedamaian yang selama ini mereka impikan.
Malam itu, mereka baru saja selesai makan malam romantis di apartemen atas kedai mereka. Shania sedang bersandar di dada bidang Deva yang sedang menonton televisi, menikmati teh hijau hangat yang mengepulkan asap tipis.
Bzzzt… Bzzzt…
Bukan ponsel pribadi mereka yang bergetar. Melainkan sebuah perangkat pager satelit militer kuno berkode enkripsi khusus yang disimpan Deva di dalam kotak besi di lemari pakaiannya. Alat itu hanya menyala jika ada pesan darurat tingkat tertinggi dari jalur komunikasi keluarga yang sangat privat.
Deva bangkit dari sofa, wajahnya mendadak mengeras. Shania ikut berdiri dengan perasaan yang mendadak tidak enak. Insting detektifnya tahu bahwa kedamaian mereka baru saja terusik.
Deva membuka kotak besi itu, mengeluarkan pager satelit yang layarnya berkedip dengan warna hijau neon. Sebuah pesan teks pendek ber-enkripsi ganda muncul di layar kecilnya. Pesan itu dikirim dari sebuah server proxy rahasia di Singapura.