“Permisi, permisi.” Melewati perawat dan pasien, Alya mencari nomor kamar yang Alaric kirimkan padanya. Tepat saat berbelok, dia menemukan sang adik yang kebetulan hendak memasuki ruangan.
“Gimana kondisinya, udah baikan?” tanya Alya sembari menahan Alaric. “Aku telepon sama kirim chat ke Om Nandar, tapi enggak ada respons sama sekali.”
“Sama, Mbak. Boro-boro centang satu, semua pesanku nyangkut entah di mana,” Alaric menanggapi. “Mila baik-baik aja, malam ini udah boleh pulang. Dia harus bedrest sampai cedera kakinya sembuh.”
Kemudian, Alya merogoh dua lembar uang seratus ribuan. “Kamu pulang duluan, deh, sambil beli makan malam. Biar aku sama Mila pulang pakai taksi.”
Kening sang adik mengerut. “Mbak yakin?”
“Iya, sana cepet! Daripada kamu senewen ketahan macet di jalan.”
Setelah Alaric membawa tas dan kunci sepeda motornya, Alya menghampiri Mila yang terbaring tidur di ranjang. Kaki kanannya terbalut perban di sekitar betis dan pergelangan. Terdapat lecet juga di lengan dan wajahnya.
Selepas makan siang tadi, Alaric menelepon Alya; mengabari Mila terserempet mobil saat hendak menyeberang jalan. Sang pelaku malah kabur dan meninggalkan gadis itu tergeletak di jalan. Warga sekitar lantas membawanya ke rumah sakit terdekat dan salah seorang dari mereka menghubungi Alaric.
“Tunggu infusnya habis dulu, ya, Mbak,” pesan seorang perawat yang memeriksa Mila. “Panggil saya kalau butuh sesuatu.”
Tepat saat sang perawat keluar, Mila tersadar. Matanya memicing kala bertemu cahaya lampu. Alya lantas menarik kursi dan menempatkannya di sisi kiri ranjang. Seharusnya dia meminta Alaric menemaninya, karena ternyata ditinggal berdua seperti ini membuatnya canggung.
“Saya—saya di mana?” Mila mengerjap, lalu menoleh ke arah Alya. Tatapannya kosong, tetapi ada kilat keheranan yang terpancar.
“Rumah sakit, tadi siang kamu kena kecelakaan.” Kemudian, Alya mengambilkan segelas air untuknya. “Kamu enggak perlu opname. Lukanya ringan, jadi pemulihan bisa dilakukan di rumah.”
Sang lawan bicara tak terlalu menggubris ucapannya. Tangannya lantas mencari-cari sesuatu di sekitar ranjang. “Ponsel saya….”
Alya melepas napas panjang, lalu membuka laci dan menemukan benda yang dimaksud. Melihat ponselnya, Mila serta-merta mengambil untuk mengeceknya. Sama-sama, gumam Alya dalam hati seraya mengamati sang keponakan yang sibuk mengetik sesuatu, lalu menelepon seseorang.
Panik terlihat di wajah kala panggilannya tak direspons. Pada akhirnya Mila menyerah setelah mencoba puluhan kali dan melempar ponselnya ke dekat kakinya yang cedera.
Tak perlu bertanya, Alya yakin Mila menghubungi Nandar. Jika panggilan anaknya saja tak ditanggapi, apalagi darinya dan Alaric. Apa yang sedang pria itu sebenarnya lakukan sampai sulit mengecek ponsel?
“Saya mau pulang.” Getaran dalam suara Mila menandakan tangis yang sebentar lagi pecah. “Saya enggak mau ada di rumah sakit.”
Alya melirik sekilas kantung cairan infus yang akan habis. Semoga dia dapat melobi dokter atau perawat untuk memulangkan Mila lebih cepat. “Beri aku lima menit. Setelah itu, kita bersiap-siap pergi.”
*
Sesampainya di rumah, Alaric membantu Alya memapah Mila dari taksi. Kondisi tubuh yang belum benar-benar pulih membuat remaja itu tak bisa mengelak kala Alya meminta kunci untuk mengakses kamarnya.