Kerja sama antara Music High Entertainment dengan Polished Wood Events menjadi bukti keseriusan CEO Jun menggelar rangkaian acara untuk CALYTRIX. Bahkan dua hari setelah perjanjian disepakati, dia langsung mengadakan meeting untuk mematangkan konsep comeback grup kesayangannya.
“Sebelumnya, saya ingin berterimakasih kepada Hajoon yang minggu lalu mengirimkan beberapa sampel lagu. Bakatmu memang luar biasa. Inspiratif. Sampai-sampai saya segera menghubungi tim kreatif untuk menyiapkan bahan presentasi.”
Di balik pujian itu, Hajoon yakin CEO Jun menyimpan tujuan dan motif lain yang ingin dicapai. Makanya, dia tak keburu senang walau ketiga temannya menatap bangga.
“Perpaduan instrumen tradisional Korea dan modern yang kamu produksi membuat saya berpikir….” Pria itu mengisyaratkan Sekretaris Bo untuk menayangkan presentasi di layar. “Bagaimana kalau kita mengangkat salah satu mitos populer dari negeri ini?”
Di layar, terdapat sketsa kasar empat pria yang mengenakan hanbok. Di belakang mereka, tampak reruntuhan gedung dan asap mengepul yang menandakan kehancuran. The End of the Nation, tulisan itu muncul setelahnya.
Kemudian, visual berganti ke area hutan yang telah ditebangi; menyisakan tunggul-tunggul hitam seperti habis terbakar. Keempat pria itu berjalan ke bagian dalam hutan sampai berhenti di depan sebuah gua. Tak lama berselang, sebuah bayangan hitam muncul dari dalam gua secara perlahan.
Ketika sosok tersebut memperlihatkan wujudnya, napas Hajoon tercekat.
“Kalian sudah bisa menebaknya?” tanya CEO Jun seolah-olah keempat pria yang duduk semeja bersamanya adalah trainee yang belum memahami apa-apa. “Ungnyeo, yang mulanya adalah seekor beruang, menjelma menjadi seorang perempuan setelah berhasil melewati tes dari dewa agung Hwanung. Konon dia pula yang melahirkan nenek moyang bangsa Korea, Dangun.
“Dalam konsep mini album terbaru kalian, saya ingin membawa Ungnyeo sebagai sosok yang memberikan kehidupan kedua bagi CALYTRIX.” Dengan santainya pria itu memindahkan laman presentasi ke bagian awal. “Lihat latar belakangnya? Kehancuran ini ibarat tahun-tahun yang dirasakan Starry Flowers tanpa kalian.”
“Maaf, interupsi.” Johwa mengangkat tangan yang disambut anggukan dari CEO Jun. “Apa kehadiran Ungnyeo dalam konsep ini didasari pencarian pemimpin Starry Flowers beberapa hari terakhir?”
Senyum puas yang disusul jentikan jemari CEO Jun menjadi konformasi bagi mereka. “Akan lebih sempurna seandainya Ungnyeo yang mereka cari terlibat dalam konsep ini, bukan? Maka dari itu, leader kalian kuberi tugas penting untuk bernegosiasi dengannya.”
Sekali lagi, Johwa yang berbicara. “Hajoon sudah memberitahunya pada kami. Untuk itu pula aku menanyakan hal tadi pada Anda.”
“Bagus, bagus! Lega rasanya kalau anak-anak asuhan saya berinisiatif menjalankan tugas.” Kemudian, CEO Jun meminta Sekretaris Bo mengambilkan tablet-nya. “Saya beri kalian waktu tiga hari kalau ingin memberi masukan atau ide tambahan. Jika tak ada, kita akan mulai sesi pemotretan minggu depan untuk—ya, Hajoon?”
Hajoon menurunkan tangannya. “Aku ingin bicara empat mata dengan Anda setelah pertemuan ini selesai.”
“Hmm, sebentar. Apa saya sibuk hari ini, Sekretaris Bo?” Sosok yang ditanyakan segera mengecek buku agendanya dan menelusuri daftar kegiatan sang atasan. Tak sampai dua menit, dia memberikan jawaban lewat gelengan. “Baiklah, kita bisa bicara, tapi hanya setengah jam.”