Come Back to Me

Erlin Natawiria
Chapter #11

Kehidupan Mila

Dari seberang jalan, Alya memandangi siswa-siswi berseragam putih abu yang berlarian memasuki gedung SMA swasta di kawasan Tebet. Seorang satpam mengawasi kerumunan tersebut sembari mengecek jam tangan. Sekitar lima menit menuju pukul tujuh, pria itu mendorong gerbang; memicu kepanikan sejumlah remaja yang mempercepat langkah sebelum tertahan di luar gedung.

Pemandangan itu kontras dari masa sekolah Alya yang terasa monoton di Seoul. Dia dan Alaric tumbuh di tengah keluarga yang disiplin. Dalam kamus mereka, terlambat adalah kata terlarang yang sebaiknya tak pernah terucap apalagi diwujudkan.

Namun, kedatangannya ke sekolah ini bukanlah untuk membanding-bandingkan. Sebelum satpam menutup gerbang, Alya bergegas melintasi jalanan, lalu menghampirinya.

“Selamat pagi, Pak.” Sapaannya membuat satpam itu berbalik. “Saya wali salah seorang siswi di SMA ini. Kalau mau urus SPP, saya harus menemui siapa?”

Pria di hadapan Alya menilainya sesaat, lalu membukakan gerbang untuknya. “Oh, buat bayar SPP biasanya ke Tata Usaha. Mbak jalan dari lorong gedung ini, terus ambil belokan kedua. Tempatnya sejajar sama Ruang Guru.”

Setelah berterimakasih pada sang satpam, Alya bergegas menelusuri lorong yang mengarahkannya ke ruang Tata Usaha. Seharusnya, dia menemui wali kelas Mila dulu, tetapi menanyakan namanya pada sang keponakan bakal mengundang curiga. Satu-satunya cara yang dapat dilakukan adalah menemui staf lain sembari mengecek SPP.

Alya berpapasan dengan seorang perempuan berkerudung ungu muda yang hendak masuk ruang Tata Usaha. Mereka bertukar senyum, lalu cepat-cepat Alya menahannya.

“Permisi, Bu. Kalau mau bayar SPP, benar urusnya di Tata Usaha?”

Perempuan yang memiliki name tag Neneng itu mengiyakan lewat anggukan. “Benar. Apa Mbak salah satu orangtua siswa di sini?”

“Bukan, saya Alya, sepupu siswi bernama Mila Mursana, kelas XI IPS 4,” katanya. “Untuk sementara, Mila tinggal bersama saya.”

Neneng mengerjap dan menggumamkan ‘oooh’. “Kebetulan saya mau kirim surat buat Mila, tapi kata teman-temannya dia sedang sakit. Mari kita bicara di dalam, Mbak.”

*

Setelah menaruh secangkir teh, Neneng tanpa basa-basi membuka pembicaraan, “Apa Mbak mengurus SPP ke sini karena tahu Mila sudah menunggak tiga bulan?”

Alya membelalak. Informasinya malah dibuka tanpa perlu dikorek lebih dalam.

“Sejujurnya, saya ke sini untuk mengecek. Belakangan ayah Mila sulit dihubungi, padahal putrinya kena kecelakaan.” Mendengar kabar itu dari Alya, Neneng beristigfar. “Jadi hari ini saya mau kasih surat dokter buat izin sakit sekalian cek pembayaran SPP.”

“Untuk surat, Mbak bisa kasih ke wali kelasnya, Bu Emi, tapi beliau sedang mengajar,” kata Neneng. “Soal SPP, kami sempat mengingatkan Mila supaya ayahnya datang ke sini. Tapi sampai sekarang orangnya belum muncul. Ini kali pertama juga Mila telat bayar, padahal biasanya lancar.”

Perlahan, Alya menyesap teh beraroma melati yang disuguhkan. Benar dugaannya dan Alaric, selepas bercerai, Nandar tak lagi mempedulikan putri sulungnya.

“Saya dengar dari Bu Emi, Mila itu siswi berprestasi,” Neneng meneruskan. “Sayang kalau dikeluarkan hanya karena nunggak SPP.”

Satu keyword yang menarik perhatian Alya: berprestasi. “Kalau boleh tahu, berapa total SPP yang harus orangtua Mila?”

Lihat selengkapnya