Angin malam yang menerpa Hajoon saat keluar minivan cukup membuatnya bergidik. Dirapatkannya jaket kala memasuki lobi apartemen yang akan ditempatinya selama di Jakarta. Karena keterbatasan waktu pula Hajoon tak banyak membantah saat Sekretaris Bo memintanya istirahat setibanya di kamar supaya tubuhnya bugar saat bangun.
“Satu jam lagi saya akan pergi ke kantor Nona Kahyana,” ujar sang sekretaris saat mereka menikmati sarapan keesokan harinya. “Tuan silakan bersiap-siap sambil menunggu kabar dari saya. Sebelum saya berangkat, apa Anda ingin menitipkan sesuatu?”
Semua perlengkapan yang Hajoon butuhkan sudah tersedia. Namun, kala pandangannya terarah pada kantung berisi camilan, dia teringat sesuatu.
“Apa kita sudah pesan makan siang?”
“Belum. Saya justru menunggu arahan dari Anda.”
Hajoon lantas mengambil ponselnya. “Kemarin aku sempat cari K-mart yang bisa dijangkau dari apartemen. Pergilah ke sana untuk membeli pesananku. Kalau ada barang yang kosong atau tak tersedia, ambil yang mirip asal masih satu jenis produk. Daftarnya akan kukirim sebentar lagi.”
Begitu Sekretaris Bo bertolak menuju kantor Polished Wood Events, Hajoon langsung menyiapkan diri. Diambilnya laptop yang disewakan untuk mengecek isi flashdisk pemberian Johwa dan mempelajari konten pada file presentasi yang dibuat. Dia harus memastikan otaknya mengingat poin-poin penting di dalamnya.
Mendekati jam makan siang, Hajoon mengeluarkan setelan kemeja dan celana bahan formal yang dipinjamkan Gaeul. Postur tubuh yang sama menguntungkan mereka untuk meminjam pakaian. Berada di sekitar stylist dan make up artist selama bertahun-tahun pun melatihnya menata gaya rambut hingga riasan sesuai jenis kegiatan.
Maka sekitar 15 menit sebelum Sekretaris Bo datang, Hajoon telah bersiap di ruang tengah; menunggu Alya yang berhasil dibawa sebagai calon klien potensialnya hari ini.
*
“Selamat datang, Nona Kahyana.”
Bunyi ketukan dari hak sepatu Alya mengisi kekosongan unit apartemen mewah itu. Dari ritmenya, terdengar keraguan di beberapa langkah sebelum perempuan itu mengambil belokan. Sementara Hajoon makin kuat menggigiti bagian dalam pipi, lalu tanpa sadar ikut menahan napas kala jarak Alya kian mendekat.
Jika pada pertemuan sebelumnya Alya mengenakan outfit bernuansa beige yang lembut, kali ini sosok itu bermain kontras dengan warna hitam-putih. Pulasan lipstik merah pada bibirnya menjadi penegas yang serta-merta menarik atensi Hajoon. Warna klasik yang selalu berhasil dijadikan statement penampilan untuk berbagai acara.
Sadar, Hajoon. Jangan terintimidasi duluan, batinnya. Di sini kamu yang harus mampu meluluhkan pertahanan Alya.
“Silakan duduk,” Sekretaris Bo menarik kursi untuk Alya. Seharusnya Hajoon yang melakukan hal itu kalau dia dapat menguasai diri lebih cepat.