Ketika Sekretaris Bo mengatakan ada jamuan makan siang, Alya tak menduga hidangan yang disajikan adalah ramyeon instan bersama aneka side dish. Dari kimchi, odeng, hingga tteokbokki. Keterkejutannya pun berlanjut saat Hajoon muncul dari arah kamar sambil membawa dua camilan favoritnya.
“Bibi Areum yang menitipkannya untukmu,” ujar pria itu sembari menaruh sekotak penuh honey butter chips dan seaweed crisps. “Apa kamu mau makan dulu atau kita teruskan diskusi seputar presentasi?”
Sesungguhnya, Alya ingin melanjutkan diskusi. Namun, tubuhnya berkhianat kala menangkap aroma ramyeon yang baru matang. Warna side dish di sekitar panci juga tiba-tiba terlihat menggiurkan berkali lipat.
“Jangan sungkan kalau mau makan dulu.” Celetukan Hajoon malah membuat Alya malu. Sekentara itukah ekspresi laparnya terlihat? “Sebentar, aku ambilkan—”
“I can serve myself.” Cepat-cepat, Alya mengambil mangkuk dan sumpit. Namun, dia tak memperhatikan lengan Hajoon di sekitar panci. Akibatnya, salah satu sumpit terlepas dari genggaman saat tangan mereka tak sengaja bertubrukan.
Menyaksikan kejadian tersebut, Alya dan Hajoon bersitatap dalam diam. Hangat merambati pipi perempuan itu, antara malu dan sebal karena mendadak bersikap ceroboh. Padahal selama satu jam terakhir dia mampu bersikap kala menyaksikan Hajoon presentasi.
"Kamu tamuku, Alya. Biar aku yang melayani," Hajoon yang kali pertama mencairkan kecanggungan. "Sebentar, biar kuambilkan sumpit baru."
Dibiarkannya Hajoon menyajikan ramyeon. Pada momen tersebut, Alya diam-diam mengamati sosok rupawan di hadapannya. Menjelang kepala tiga, jejak kekanakannya hilang digantikan garis-garis wajah yang menegaskan sisi maskulin. Sepasang matanya yang tajam mengingatkan Alya pada elang yang tengah mengawasi mangsa.
Dibandingkan anggota-anggota CALYTRIX, Hajoon tak semanis Manwol atau... Yulyeon. Mereka punya tingkat popularitasnya cukup tinggi karena dianggap memenuhi standar idola K-pop. Namun, menurut Hajoon, faktor itu pula yang menyelamatkannya dari sorotan media, jadi dia dapat leluasa bergerak di belakang layar.
Termasuk mencuri waktu untuk menemui Alya di convenience store Bibi Areum.
"Selamat menikmati. Maaf kalau rasanya belum sama dengan yang Bibi Areum buat." Hajoon menyodorkan kimchi padanya. "Syukurnya di sekitar sini ada K-mart."
Meski agak canggung, Alya menikmati ramyeon buatan Hajoon. Di antara pedas yang dominan, lidahnya menangkap manis dan asin, bercampur asam dari kimchi. Kombinasi rasa yang amat familier. Rasa yang juga absen dari hidupnya selama empat tahun.
“Aku pakai resep Johwa,” celetuk Hajoon yang serta-merta mengonformasi tebakan-tebakan yang melayang dalam benak Alya. “Seandainya ketiga temanku bisa ikut, mereka pasti bakal memanjakanmu.”
Alya sempat bertemu CALYTRIX dalam formasi lengkap saat tinggal di Seoul. Walau hanya Hajoon dan Yulyeon yang mengetahui identitas aslinya, ketiga pria lain dalam grup tersebut tetap menghargai privasinya. Mereka tak pernah meminta Alya membuka topeng kala bertemu, tetapi tetap memperlakukannya bak penggemar setia.
Kunyahannya melambat. Inilah kenapa Alya enggan berlama-lama berada di sekitar Hajoon. Memorinya akan berkelana ke masa lalu untuk bernostalgia. Jika tak cepat-cepat mengendalikan diri, dia pasti bakal terseret lebih jauh ke tempat lebih berbahaya.