Apa yang kamu katakan jadi salah satu alasanku nekat menemuimu ke sini.
Kepala Hajoon terasa ringan kala mengucapkan kalimat itu. Selain wangi parfum sandalwood yang menguar, lekukan leher Alya yang mengintip dari helai-helai rambut nyrais merenggut kewarasannya. Pesan Sekretaris Bo menjadi alasan yang berhasil menyelamatkan pria itu dari hal-hal yang semestinya tak boleh terjadi di antara mantan kekasih.
“Silakan kopinya.” Wangi dari secangkir kopi yang dibawakan Sekretaris Bo seketika menenangkan pikiran Hajoon yang kalang kabut. “Apa besok sore saya perlu menjemput Nona Kahyana di kantornya?”
Demi keamanan, Hajoon juga akan memilih opsi tersebut. “Kita tunggu kabar dari Alya. Dia belum kirim detail untuk pertemuan besok.”
Bersama secangkir kopi, Hajoon berjalan menuju jendela besar yang menampilkan gemerlap kota Jakarta. Sekilas, kerlap-kerlip lampu dari gedung-gedung pencakar langitnya mengingatkan sosok itu pada Seoul. Pada kota yang begitu dicintai dan dibencinya.
Selama berteman, lalu menjalin hubungan sebagai pasangan kekasih, Hajoon jarang mendengarkan cerita Alya tentang Jakarta. Dia hanya mampir sesekali saat liburan sekolah, sementara sisanya dihabiskan di Seoul yang merupakan tempat asal mendiang ibunya.
“Mungkin aku enggak bakal kesulitan beradaptasi sama Jakarta kalau satu hari nanti harus benar-benar menetap di sana,” katanya saat mereka menikmati bungeoppang pada akhir musim dingin. “Kamu sendiri gimana? Apa pernah punya rencana tinggal di luar Korea?”
Disesapnya kopi racikan Sekretaris Bo perlahan sembari mengamati jalan yang dilalui kendaraan. Dari pertemuan-pertemuan yang terjadi, Alya telah membuktikan ucapannya: dia sanggup beradaptasi sampai mendapatkan pekerjaan yang bagus di kota ini.
Bukan cuma itu, dia juga sanggup menjaga jarak darinya.
Kamu sendiri gimana? Apa pernah punya rencana tinggal di luar Korea?
Jujur saja, dengan tekanan dan beban yang CEO Jun berikan, Hajoon siap mengambil peluang apa pun yang dapat menariknya keluar dari Seoul.
*
Hari saat Yulyeon menangkap basah Hajoon bersama Nona Ungnyeo terjadi beberapa minggu sejak pertemuan pertama mereka. Mulanya, Alya belum berani melepaskan topeng yang mana Hajoon maklumi. Sebisa mungkin dia membuatnya nyaman; menjauhkan kesan mengintimidasi dari statusnya sebagai rookie idol.
Upayanya berhasil. Sekitar dua bulan kemudian, Alya tanpa canggung membuka topeng begitu Bibi Areum meletakkan ramyeon pesanan mereka.
“Aku sampai pangling,” celetuk sang pemilik convenience store yang turut menyaksikan momen bersejarah tersebut. “Benar dugaanku, kamu yang mewarisi wajah manis dan rambut hitam Sumi. Sementara adikmu seperti versi muda ayahnya.”
Alya terkekeh mendengar komentar Bibi Areum, sementara Hajoon bergeming memandangi pesona yang terpancar dari sosok di sampingnya.
“Kalian sudah lama kenal?” Pertanyaan itu meluncur saat Bibi Areum meninggalkan mereka. “Maksudmu, keluargamu dan bibi.”