“Alya minta jadwalnya diatur ulang?”
“Betul, dia menelepon saya sekitar 10 menit lalu. Katanya ada urusan keluarga.”
Diliriknya kantung belanjaan berisi bahan baku makanan di meja ruang tengah. Sejak pagi, Hajoon memikirkan menu sembari menebak-nebak jawaban yang akan diberikan Alya. Dari obrolan dan setiap tanggapan, pria itu yakin akan menerima penolakan, bahkan lebih kejam dari yang dibayangkan.
Namun, Hajoon harus pulang bersama berita baik. Untuk itulah dia menahan tawaran pembayaran jasa sebagai senjata pamungkas. Berharap Alya mempertimbangkan kembali keputusannya kalau ada bayaran setimpal atas jasanya.
“Tuan,” panggil Sekretaris Bo lebih keras. Hajoon tersentak. Pasti dia terbawa lamunan sampai tak mendengarnya. “Apa kita harus menunggu kabar Nona Kahyana?”
Urusan keluarga. Alasan klasik yang kadang Hajoon pakai juga agar bisa menyingkir dari acara-acara yang enggan didatangi. Di sisi lain, dia yakin Alya bukan tipe orang seperti itu, apalagi untuk pertemuan profesional.
“Kita tunggu kabar saja,” dia memutuskan. “Bantu aku membereskan belanjaan. Setelah itu kita cari makan di luar.”
*
Dua hari berlalu sejak Hajoon menginjakkan kaki di Jakarta. Pertemuan yang mulanya diperkirakan lancar malah tersendat. Setiap jam bergulir lambat bagi Hajoon. Ingin rasanya dia meminta Sekretaris Bo mengantarkannya ke kantor Alya kalau kemunculannya tak bakal viral di media sosial.
“Tuan,” Sekretaris Bo berjalan cepat dari ruangannya. Salah satu tangannya memegangi ponsel. Jangan-jangan— “CEO Jun ingin bicara dengan Anda.”
Rahang Hajoon mengeras. Sial, hasil pertemuan kemarin belum dilaporkan. Pantas pria itu menghubunginya.
Setelah melepas umpatan dalam hati, Hajoon menerima ponsel dari Sekretaris Bo. “CEO Jun, ini aku.”
“Nam Hajoon!” Keceriaan dalam suaranya kentara sekali dibuat-buat. “Kenapa telepon saya tidak diangkat sampai saya harus menghubungi dari Sekretaris Bo?”
“Baterai ponselku sedang diisi daya,” dustanya. Hajoon sengaja menghindari ponsel supaya tak terus menerus mengeceknya.
“Begitu. Apa itu juga yang membuatmu belum melaporkan hasil pertemuan dengan Nona Ungnyeo?” Benar bukan dugaannya. “Sekretaris Bo mengirim foto-foto presentasimu. Ada Nona Ungnyeo di sana. Tapi katanya dia diminta meninggalkan ruangan karena kalian ingin bicara empat mata.”
Adalah keputusan tepat bagi Alya ‘mengusir’ Sekretaris Bo. Kalau pria itu ada di ruangan, obrolannya pasti sudah sampai ke telinga CEO Jun. “Presentasiku lancar, Alya juga terkesan. Sayangnya dia butuh waktu untuik memikirkan tawaranku.”
“Ah ya, namanya Alya,” gumam pria di ujung telepon. “Saya dengar, dia mendadak membatalkan pertemuan kedua karena urusan keluarga.”
Selain menemaninya, Sekretaris Bo ternyata berperan sebagai perpanjangan telinga dan mata CEO Jun. “Ya, aku sedang menunggu kabar—”
“Hubungi dia, Hajoon.” Suaranya tenang, tetapi mampu menusuknya. “Kita sedang berbisnis, bukan mengejar cinta lama. Saya mengutus Sekretaris Bo untuk memudahkan pergerakanmu. Dia bisa terjun ke lapangan sementara kamu mengawasi di apartemen.”