Come Back to Me

Erlin Natawiria
Chapter #17

Menyelamatkan Rumah

Dua orang pria berjaket kulit hitam berdiri di ambang pintu kala Alya membuka gerbang. Di hadapan mereka, berdiri Alaric yang tengah mengucapkan sesuatu. Kemudian saat mata mereka bertemu, sang adik melepas napas lega walau masih terlihat tegang.

“Selamat sore.” Alya mengaktikan mode profesionalnya. “Ada keperluan apa kalian datang ke sini?”

“Anda siapa?” tanya salah seorang pria yang berkepala botak. “Kami sedang mencari saudara Nandar Mursana untuk menagih utang.”

“Saya sepupunya.” Lewat tatapan, Alya mengisyaratkan Alaric untuk mundur agar dia leluasa berbicara dengan dua pria itu. “Pak Nandar kebetulan tidak tinggal di sini. Nomor teleponnya juga sulit dihubungi.”

Kedua pria itu berpandangan, lalu yang berkepala botak membisikkan sesuatu pada yang berambut keriting. “Kalau begitu, kami ingin bicara dengan anaknya.”

Terdengar pekikan panik dari Alaric, tetapi dengan cepat Alya menjawab, “Anaknya sedang bedrest total. Kalian bisa sampaikan pesan untuk Pak Nandar pada saya dulu.”

Mulanya, kedua pria itu tampak meragukan Alya. Mereka mundur sampai diskusi yang berlangsung tak masuk ke jangkauan pendengarannya. Lima menit berselang, pria berkepala botak menghampiri Alya untuk menitipkan pesan.

“Katakan pada Nandar untuk segera melunasi utang pinjamannya dalam waktu dua bulan,” katanya. Tanpa teriakan, tetapi tegas dan jelas. “Jika dia tidak sanggup memenuhinya, rumah ini akan disita pihak bank.”

Alya mengerjap, lalu menoleh ke arah Alaric yang sama-sama terperanjat.

“Maaf, maksudnya rumah ini—”

“Nandar menjadikan sertifikat rumah ini sebagai jaminan pinjaman.” Pria di belakangnya mengeluarkan sebuah folder dan menunjukkan isinya pada Alya. “Silakan Anda cek kalau ingin memastikan.”

Bersama Alaric yang melongok dari balik punggung, Alya mempelajari setiap data yang tercantum pada dokumen tersebut. Kemudian, dia menyamakannya dengan salinan dalam bentuk soft file di ponselnya.

Kepanikan merayapi Alya. Benar, itu sertifikat rumah yang diambil Nandar.

“Kalau boleh saya tahu,” Alya menyerahkan kembali folder tersebut, “berapa pinjaman yang Pak Nandar ambil dengan jaminan sertifikat ini?”

“Seratus juta rupiah.” Alya hampir menjerit di tempat. “Kalau memang Nandar tak ada di sini, kami pamit dulu. Ingat, beritahu dia untuk melunasi utangnya.”

Sepeninggal dua debt collector tadi, Alya lemas sekujur tubuh. Bahkan untuk mengangkat kakinya saja harus sampai berpegangan pada Alaric. Keduanya lalu duduk di meja makan; membiarkan suara penyiar berita televisi memenuhi ruangan.

“Sekarang semuanya masuk akal,” gumam Alaric setelah meneguk teh. “Kemarin, aku mampir ke alamat yang kata Om Nandar lokasi bengkelnya. Emang ada bengkel, tapi kata yang punya kepemilikannya udah lama berpindah ke dia.”

Lihat selengkapnya