Alya tiba di Seoul sekitar pukul dua dini hari. Pihak agensi sepertinya sengaja memilihkan penerbangan malam untuk menghindari jam-jam sibuk. Walau kenyataannya bandara tetap padat sesampainya di sana, Alya dapat bergerak lebih leluasa.
Menurut pesan yang dikirimkan Sekretaris Bo, Alya akan dijemput Manajer Na. Matanya memindai orang-orang yang berbaris menunggu para penumpang yang akan dijemput. Langkahnya terhenti kala menangkap seorang perempuan berjaket cokelat yang mengacungkan karton bertuliskan KAHYANA, lalu bergegas menghampirinya.
“Halo,” Alya menyapa sosok berambut sebahu itu. “Aku Kahyana. Alya Kahyana.”
“Hai, saya Manajer Na,” balasnya dengan ekspresi lega. “Mari kita pergi. Manajer Lee sedang menunggu di tempat parkir. Dia yang mengantar kita ke apartemen.”
Walau pembawaan Manajer Na lebih bersahabat, Alya tak mau cepat terlena. Perlu ada jarak yang dijaga supaya dia fokus mengerjakan tugas-tugasnya di Seoul. Selain itu, Alya harus segera istirahat, sebab besok ada jadwal makan siang bersama—
“Hajoon,” Manajer Na menyebut nama itu kala memuka pintu mini van. “Geser ke arah jendela. Nona Kahyana mau masuk.”
Perhatian Alya seketika tertuju pada pria bertopi hitam di kursi penumpang. Meski wajahnya ditutupi masker, sosok itu tetap menguarkan aura yang membuatnya bergidik.
Lebih dari itu, detak jantungnya berdegup tak keruan kala beradu pandang dengan sepasang matanya yang tajam.
*
Kenapa Hajoon ada di sini?
Perjalanan menuju apartemen diisi basa-basi singkat antara Manajer Na dan Alya. Sementara pria yang menyupiri mereka adalah Manajer Lee yang mengurus kebutuhan CALYTRIX selama empat tahun terakhir.
“Omong-omong, kalian bisa memanggilku Alya saja.” Nona Kahyana terdengar kurang praktis. “Uh, jadi nanti di apartemen, aku bakal tinggal bersama Manajer Na?”
“Iya, CEO Jun yang memerintahkan saya menemanimu.” Perempuan itu menunjukkan jadwal kegiatan di smartphone. “Saya sudah simpan daftar tugas-tugasmu.”
Sulit sekali bagi Alya untuk tak menyukai Manajer Na. “Sebaiknya kita juga bertukar nomor telepon supaya mudah berbagi kabar.”
Anehnya, Hajoon memilih bergeming di sepanjang perjalanan. Mustahil juga bagi Alya membuka pembicaraan tanpa mengundang kecurigaan dari dua manajer itu. Ketika sampai di area parkir yang berada di basement, Manajer Lee meminta Alya dan Hajoon naik duluan, sementara dia dan Manajer Na yang membawakan barangnya.
Alya terpaku memproses instruksi itu pelan-pelan. Apa dia tak salah dengar? Perempuan itu tersentak kala Hajoon menepuk pundak, lalu mengarahkannya menuju lift.