Come Back to Me

Erlin Natawiria
Chapter #20

Kupu-kupu

Selepas mencuci peralatan makan, Hajoon menawarkan diri untuk menyeduhkan barley tea. Sikap Alya yang mulai melunak jelas membuatnya lega dan senang. Namun, dia tetap perlu berhati-hati kalau tak mau perempuan itu menjaga jarak lagi.

“CEO Jun bilang waktu kalian bahas kontrak, kamu hampir tak menanyakan sesuatu.” Untuk mendapatkan kepercayaan Alya sepenuhnya, Hajoon langsung membahas topik yang dijanjikan. “Begini, aku bersyukur kalau kamu tak menemukan masalah dalam poin-poin kesepakatannya, tapi ada satu hal yang menggangguku.”

“Apakah ini berhubungan dengan album?”

“Ya. Kami belum menemukan solusi untuk menenangkan Starry Flowers.” Hajoon mengulum bibir bawahnya. “Hanya menampilkan Nona Ungnyeo dalam konten promosi rasanya belum cukup untuk menenangkan penggemar. Pasti mereka mengantisipasi sesuatu yang berkaitan dengan Yulyeon mengingat kalian—kalian ‘pergi’ di waktu bersamaan.”

Sebuah senyum miris muncul sekilas di wajah Alya. “Sebenarnya aku punya daftar yang ingin kutanyakan kepada CEO Jun, termasuk posisiku dalam comeback CALYTRIX.”

Hangat merambati pipi Hajoon. Benarkah kata orang-orang: great minds think alike.

“Maaf, Hajoon, aku juga masih memikirkannya. Apa yang bisa kulakukan sebagai Nona Ungnyeo untuk menenangkan Starry Flowers,” Alya melanjutkan. “Dulu rasanya mudah menemukan jalan keluar untuk menyelesaikan masalah di fandom, tetapi sekarang—”

“Jangan tekan dirimu terlalu keras.” Tangan Hajoon mengepal; menahan dorongan untuk menggenggam Alya. “Setidaknya aku tahu kita memkirkan hal yang sama. Mungkin kamu ingin melakukan sesuatu untuk brainstorming?”

“Soal itu—uh, aku memang punya beberapa rencana di luar pekerjaan yang ingin kulakukan selama berada di Seoul. Tapi aku enggak bisa mengajakmu. Terlalu riskan kalau sampai ada yang menangkapku jalan-jalan bersama perempuan asing.”

Lagi, Hajoon malah tergoda mengambil tantangan tersebut. “Katakan saja. Mana kutahu setinggi apa risikonya sebelum mendengar rencanamu.”

Perempuan itu menelusuri sesuatu di ponselnya, lalu menunjukkan laman peta digital. Di bawahnya tercantum nama sebuah pemakaman. “Aku mau ziarah ke makam ibuku. Lokasinya di sini. Sekitar setengah jam memakai transportasi publik.”

“Lima belas menit bersamaku.” Hajoon beringsut dari kursi untuk pindah ke dekat Alya. “Apa kamu nyaman naik sepeda motor?”

*

Manajer Lee pasti bakal menceramahi Hajoon habis-habisan. Namun, dia enggan memikirkannya, terutama saat Alya mengeratkan pelukan saat laju sepeda motor kian cepat.

“Apa kamu mau membunuhku?” peikik Alya saat mereka berhenti di lampu merah terakhir. “Usiaku belum genap 30 tahun, terlalu muda buat mati konyol di jalanan.”

“Maaf, maaf, sebentar lagi kita sampai. Akan kulambatkan kecepatannya.”

Sesampainya di pemakaman, Hajoon mengulurkan salah satu tangan pada Alya untuk pegangan berpijak turun. Hajoon tahu semestinya dia tak membawa sepeda motor sport, tetapi hanya kendaraan ini yang bisa diandalkan.

“Lututku….” Alya memegangi jok untuk menstabilkan kakinya yang gemetaran. “Aku belum pernah naik motor bongsor begini. Ini punyamu?”

Lihat selengkapnya