Come Back to Me

Erlin Natawiria
Chapter #22

Mengurai Kesalahpahaman

<bibi areum> hajoon, nona ungnyeo ada di tempatku.

Berbekal sepeda yang disediakan agensi, Hajoon menyusuri jalan-jalan pintas yang mengarahkannya langsung ke convenience store Bibi Areum. Pria itu menyingkirkan sepedanya ke pintu belakang kala menyadari lantai satu dipadati pengunjung. Dia lalu mengirim pesan pada Bibi Areum untuk membukakannya.

“Hajoon-ah, kupikir kamu tak akan datang.” Bibi Areum langsung mendorongnya ke arah tangga menuju lantai dua. “Untung areanya sudah kukosongkan.”

“Bibi memang paling bisa kuandalkan!”

Saking buru-buru, Hajoon sampai tak sempat berganti pakaian. Dia berharap aroma parfumnya mampu menyamarkan keringat yang belum sepenuhnya mengering. Persetan juga dengan diet, dia ingin menikmati ramyeon bersama Alya.

“Kupikir kamu bakal melewatkan kunjungan ke tempat Bibi Areum.” Hajoon menaruh ramyeon-nya di samping konter berisi kimchi. Sementara Alya terbatuk-batuk kala menyadari kedatangannya. “Maaf, harusnya aku menyapamu dulu.”

“Kamu lagi ngapain di sini? Mangkir latihan?”

“Kata siapa? Justru aku baru selesai latihan.” Kemudian, Hajoon mendekatkan kausnya pada Alya. “Cium saja keringatku, mumpung belum kering.”

“Astaga, jorok!” Meski begitu, Alya tak menyingkir. “Tadinya aku mau langsung ke apartemen. Terus waktu lewat taman dekat sini, aku teringat Bibi Areum.”

“Dia pasti senang melihatmu berkunjung.”

“Sangat. Dia sampai minta anaknya membawakan kimchi dari rumah,” sahut sang lawan bicara. “Mungkin aku harus bawa sebagian buat Manajer Na.”

“Berarti, Manajer Na tak akan menjemputmu ke sini?”

“Enggak, aku—” Mata Alya memicing ke arahnya. “Hajoon….”

“Aku bahkan belum mengatakan apa-apa padamu.” Wajar bila Alya mencurigainya setelah kejadian di ruang rapat. “Sebenarnya, aku mau saja menawarimu pulang ke apartemen, tapi aku hanya membawa sepeda. Terlalu riskan dan mudah ditangkap media.”

Tak ada tanggapan dari Alya. Sosok itu sibuk menyantap ramyeon sambil menonton siaran berita di televisi. Hajoon juga tak keberatan mereka menikmati makan malam sendiri-sendiri. Baginya, memastikan Alya aman dan nyaman selama berada di Seoul sudah cukup.

Alya menumpuk bungkus makanan kosong dan membuka soft drink favoritnya. “Omong-omong, sebentar lagi aku pulang. Kamu enggak keberatan kutinggal?”

“Malam baru terbit, Alya. Bersenang-senanglah sebentar.”

“Penginnya aku ngobrol lebih lama bersama Bibi Areum, tapi aku datang di tengah jam sibuk.” Perempuan itu melongok ke bawah sembari menyesap minumannya. “Mungkin aku bakal mampir sekali lagi ke sini sebelum pulang.”

Lihat selengkapnya